SAMARINDA: Di bulan suci Ramadan, geliat pasar takjil di kawasan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar), mulai menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu yang menjadi primadona warga adalah lapak kue basah tradisional milik Bunda Ina yang menyajikan beragam kudapan.
Bunda Ina mengaku telah berjualan setiap bulan Ramadan selama bertahun-tahun. Ia mengungkapkan, seluruh dagangan yang dijajakan merupakan titipan dari keluarga dan rekan-rekannya.
“Kalau jualan begini setiap bulan puasa saja. Kuenya ini titipan dari keluarga dan teman-teman, dikumpul di sini,” ujarnya saat ditemui di sela kesibukannya melayani pembeli, Minggu, 22 Februari 2026.
Menu yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari gorengan, kue basah, lauk-pauk, hingga kue tradisional Sulawesi seperti barongko daun yang merupakan resep turun-temurun.
Dari berbagai pilihan tersebut, menu favorit pembeli antara lain kue basah sarimuka, kayu apung, ketan nasi, lapis pisang, bolu peca, hingga pare berendam.
Untuk harga, Bunda Ina mematok tarif yang cukup terjangkau. Gorengan dibanderol Rp5.000 per empat buah, sementara kue basah dijual Rp13.000 per potong dan Rp85.000 untuk satu loyang utuh.
“Paling banyak dicari itu kue-kue basah sama gorengan. Khusus kue basah, yang paling terkenal itu buatan Ibu Kansia atau Wak Kansia dari Muara Badak Ulu, itu pasti orang cari,” tambahnya.
Ia menuturkan, persiapan dagangan dimulai sejak pagi hari, terutama untuk proses penggorengan. Sementara lapaknya mulai dibuka sekitar pukul 13.00 Wita.
Dari sisi keramaian, masyarakat biasanya mulai memadati lapak pada pukul 16.00 Wita hingga menjelang waktu berbuka puasa.
Kondisi tersebut membuat Bunda Ina dan rekan-rekannya cukup kewalahan, namun tetap dijalani dengan senang hati dan penuh rasa syukur.
Ia bersyukur karena tren penjualan Ramadan tahun ini meningkat signifikan dan memberikan angin segar bagi para pelaku usaha mikro di daerah tersebut.
Salah satu pembeli, Ibu Nura, mengaku selalu membeli kue basah di lapak Bunda Ina karena rasanya sesuai selera dan konsisten.
“Hari ini beli bolu peca sama kue basah ketan, karena anak saya suka. Sengaja beli di siang hari agar tidak kehabisan dan antre panjang,” jelasnya.
Menghadapi banyaknya persaingan penjual takjil di lokasi yang sama, Bunda Ina mengaku tidak merasa khawatir.
Baginya, kunci utama mempertahankan pelanggan adalah keramahan dan pelayanan yang tulus.
“Caranya ya melayani pembeli dengan baik dan senyum. Kalau kita ramah, orang pasti balik lagi. Harapannya ya semoga barang-barang titipan ini selalu habis dan laris manis tiap hari,” tutupnya.

