SAMARINDA: Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu tantangan dalam program cetak sawah di Kalimantan Timur (Kaltim).
Meski lahan mulai dialokasikan, kesiapan petani untuk mengelola sawah baru masih perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Fahmi Himawan, mengatakan sebagian lokasi yang diusulkan oleh kabupaten/kota telah menyertakan kelompok tani (poktan) maupun gabungan kelompok tani (gapoktan) sebagai pengelola.
“Beberapa lokasi sudah menyertakan poktan atau gapoktan yang akan mengelola sawah setelah dicetak,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa, 17 Maret 2026.
Namun demikian, Fahmi mengakui bahwa di sejumlah kawasan, khususnya daerah irigasi, belum seluruhnya tersedia petani lokal yang siap mengelola lahan baru tersebut.
“Memang belum semua lokasi tersedia petani lokalnya. Tapi kita optimistis karena bisa berkolaborasi dengan banyak pihak,” katanya.
Untuk mengatasi keterbatasan SDM tersebut, Pemerintah Provinsi Kaltim mendorong keterlibatan berbagai elemen, mulai dari akademisi hingga organisasi kepemudaan di sektor pertanian.
“Kolaborasi dilakukan dengan fakultas pertanian, Pemuda Tani Indonesia, Kontak Tani Nelayan Andalan, dan organisasi lainnya untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan sawah,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga mengandalkan program pembentukan brigadir pangan sebagai salah satu solusi penguatan SDM pertanian.
Fahmi menyebut pada 2025 Kaltim telah membentuk sekitar 70 brigadir pangan dalam program optimalisasi lahan seluas 13.900 hektare.
“Untuk cetak sawah ini, pemerintah pusat juga akan membentuk brigadir pangan baru yang melibatkan petani milenial dan petani muda,” ujarnya.
Ia menjelaskan setiap brigadir pangan akan terdiri dari sekitar 15 orang yang berperan dalam mendukung pengelolaan lahan pertanian secara berkelanjutan.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di daerah.
“Di bidang pangan ini memang perlu melibatkan petani muda dan milenial. Jadi harus kolaborasi,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, Pemprov Kaltim optimistis program cetak sawah tidak hanya menambah luas lahan pertanian, tetapi juga mampu menciptakan sistem pengelolaan yang berkelanjutan melalui dukungan SDM yang memadai.

