SAMARINDA: Aktivitas penjualan takjil di Kota Samarinda selama bulan Ramadan 1447 Hijriah tetap menunjukkan geliat yang cukup ramai, meski sebagian pedagang mengaku mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu pedagang takjil di Jalan Siradj Salman, Wulandari (31), mengatakan penjualan tahun ini masih berjalan lancar, terutama pada waktu menjelang berbuka puasa.
“Bulan ini ramai sekali, tapi kalau dibandingkan tahun kemarin memang lebih ramai tahun lalu,” ujarnya saat ditemui di lapaknya, Kamis, 19 Maret 2026.
Menurutnya, penurunan jumlah pembeli kemungkinan dipengaruhi oleh faktor cuaca yang kerap hujan selama Ramadan.
“Kurang tahu juga penyebab pastinya, mungkin efek hujan jadi agak sepi,” katanya.
Wulandari mengaku hanya berjualan takjil saat bulan Ramadan. Di luar itu, ia lebih banyak beraktivitas sebagai ibu rumah tangga.
“Setiap tahun jualan di sini, tapi hanya selama Ramadan saja,” jelasnya.
Ia menyediakan berbagai jenis takjil, mulai dari gorengan hingga kue basah. Beberapa menu yang dijual antara lain risol, tahu isi, tahu bakso, pastel, hingga aneka kue tradisional.
“Ada yang bikin sendiri, ada juga titipan dari orang lain,” ungkapnya.
Di tengah kenaikan harga bahan baku, Wulandari memilih untuk tidak menaikkan harga jual. Sebagai gantinya, ia menyesuaikan ukuran produk agar tetap terjangkau bagi pembeli.
“Kalau harga tetap, tapi ukuran kadang kita kecilkan. Soalnya bahan-bahan pasti naik,” katanya.
Ia menjual takjil dengan harga mulai dari Rp2.000 per potong, agar tetap bisa dijangkau semua kalangan.
Wulandari menyebut, tren penjualan takjil cenderung fluktuatif sepanjang Ramadan. Pada awal dan akhir bulan biasanya mengalami peningkatan, sementara pertengahan cenderung lebih sepi.
“Awal sama akhir biasanya ramai, kalau pertengahan agak sepi,” ujarnya.
Untuk menu favorit, risol menjadi produk yang paling banyak diminati pembeli. Dalam sehari, ia bisa menyiapkan hingga 200–300 buah risol, sementara menu lainnya rata-rata di atas 50 porsi.
“Risol paling banyak dicari, biasanya bisa habis,” katanya.
Menjelang Hari Raya Idulfitri, Wulandari memperkirakan penjualan akan kembali meningkat seperti tren di tahun-tahun sebelumnya.
Ia berencana tetap berjualan hingga H-1 Lebaran sebelum akhirnya menutup lapak saat hari raya.
Hal senada juga diungkapkan pedagang Radja Risol Idris yang mengaku tahun ini penjualannya turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Ya Ramadan tahun ini tidak tau kenapa penjualan lumayan turun, beda dengan tahun lalu,” ujarnya saat ditemui di lapaknya.
Menurutnya, rame pembeli bisa dilihat dengan ramainya jalanan Siradj Salman.
“Kalo jalan ini macet dan padat itu artinya lapak disini pada rame, lihat sendiri jalanannya lancar-lancar aja. Tandanya rame jualan itu ya jalanan padat,” jelasnya.

