SAMARINDA: Aliansi Perjuangan Masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) menyatakan ketidakpuasannya terhadap respons Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, yang disampaikan melalui akun Instagram resmi Pemerintah Provinsi Kaltim pasca aksi unjuk rasa 21 April (Aksi 214).

Jenderal Lapangan (Jenlap) Aksi 214, Fathurrahman, menegaskan bahwa pihaknya tidak lagi menaruh harapan pada pernyataan lisan gubernur yang dinilai tidak disertai langkah konkret.
“Kita tidak mengharapkan jawaban apa-apa dari Gubernur karena perkataannya hanya omong kosong belaka. Fokus kami adalah segera melaksanakan rencana tindak lanjut mengenai pakta integritas kemarin,” ujarnya kepada media, Rabu, 22 April 2026.
Menurut Fathur, pasca aksi besar yang melibatkan ribuan massa tersebut, fokus utama aliansi kini beralih pada pengawalan implementasi Pakta Integritas yang telah ditandatangani oleh DPRD Kaltim.
Ia menyebut konsolidasi internal terus diperkuat guna memastikan kesepakatan tersebut tidak berhenti pada simbol semata, melainkan benar-benar diwujudkan dalam kebijakan nyata.
Terkait tenggat waktu, Fathur mendesak DPRD maupun Pemerintah Provinsi untuk segera mengambil langkah konkret tanpa penundaan.
Ia bahkan mengingatkan potensi gelombang aksi lanjutan jika tidak ada perkembangan signifikan dalam waktu dekat.
“Akan diadakan konsolidasi kembali untuk menekan kesepakatan yang telah ditandatangani. Jika tidak ada tindak lanjut, akan ada cara baru dan jumlah massa yang baru dengan eskalasi yang lebih besar dan masif,” tegasnya.
Selain itu, Fathur juga menyoroti pernyataan gubernur yang beredar melalui video di media sosial.
Ia menilai respons tersebut tidak mencerminkan empati terhadap tuntutan masyarakat yang disuarakan dalam aksi.
“Tidak ada permintaan maaf atau bahkan penyesalan. Selalu memberikan keterangan yang bersifat aman untuk dirinya sendiri. Tolong evaluasi diri Anda, Pak,” cetusnya.
Di sisi lain, aliansi tetap mengimbau seluruh peserta aksi untuk menjaga soliditas dan konsistensi dalam mengawal tuntutan yang telah disepakati.
Fathur menegaskan bahwa perjuangan tidak berhenti pada satu momentum aksi, melainkan membutuhkan pengawalan berkelanjutan hingga seluruh tuntutan benar-benar terealisasi.
“Teman-teman ingat, perjuangan tidak selesai dalam satu hari. Kita harus terus mengawal pakta integritas itu sampai semua tuntutan terpenuhi dan kita menang seutuhnya,” pungkasnya.

