SAMARINDA: Kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami penurunan signifikan dalam dua tahun terakhir. Dari sebelumnya mencapai 43,19 persen pada 2023, porsi sektor ini turun menjadi 34,18 persen pada 2025.
Perubahan tersebut menjadi sinyal awal transformasi struktur ekonomi daerah, sekaligus mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim mempercepat kebijakan hilirisasi sebagai strategi pembangunan jangka panjang.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menegaskan wilayahnya memiliki posisi strategis dalam konstelasi pembangunan nasional.
Selain berdampingan langsung dengan Ibu Kota Nusantara, Kaltim juga berada di jalur pelayaran internasional ALKI II yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
“Kalimantan Timur memiliki posisi yang sangat strategis dalam konstelasi pembangunan nasional. Berdampingan dengan IKN serta berada di jalur perdagangan ALKI II, ini menjadikan Kaltim sebagai superhub ekonomi Nusantara,” tegas Rudy dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Tahun 2027 di Odah Etam, Kamis, 30 April 2026.
Meski demikian, Rudy mengakui bahwa perekonomian Kaltim selama ini masih sangat bergantung pada sektor minyak, gas, dan batubara yang rentan terhadap fluktuasi pasar global.
“Kita harus jujur ekonomi kita masih sangat bergantung pada migas dan batubara. Karena itu, kita harus mulai bergerak ke sektor-sektor lain yang memiliki nilai tambah tinggi,” ujarnya.
Sebagai bagian dari proses diversifikasi ekonomi, sektor industri pengolahan kini mulai menunjukkan tren penguatan dengan kontribusi ekonomi yang telah menembus lebih dari 20 persen.
Menurut Rudy, peningkatan ini menjadi indikator awal bahwa transformasi ekonomi Kalimantan Timur mulai berjalan secara nyata.
“Ini tanda bahwa transformasi ekonomi kita mulai berjalan. Dominasi pertambangan berkurang dan sektor pengolahan mulai menguat,” paparnya.
Di tengah masa transisi tersebut, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur tetap berada dalam jalur positif dengan capaian 4,53 persen.
Pemerintah provinsi pun menegaskan komitmen untuk mempercepat hilirisasi industri sebagai langkah strategis memperkuat fondasi ekonomi daerah agar tidak lagi terlalu bergantung pada komoditas mentah.
“Kita harus bergerak ke sektor bernilai tambah tinggi. Hilirisasi menjadi kunci agar ekonomi kita lebih kuat dan tidak terlalu bergantung pada komoditas global,” katanya.
Selain hilirisasi, pembangunan infrastruktur dasar dan konektivitas juga menjadi prioritas utama untuk mendukung arus investasi dan pengembangan kawasan industri baru.
“Berkenaan dengan arah pembangunan yang mengedepankan investasi dan hilirisasi, kita harus menyiapkan instrumen pendukung yang kuat, yaitu infrastruktur dasar dan konektivitas,” tandasnya.

