SAMARINDA: Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kalimantan Timur (Kaltim) masa bakti 2024–2029. Rediyono menegaskan, PGRI merupakan rumah besar bagi para guru. Sekaligus ruang perjuangan, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kaltim.

Hal tersebut disampaikan Rediyono, di Hotel Grand Verona, Jumat 15 Mei 2026, saat pelantikan Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kaltim.
Dikatakan, dengan pelantikan ini menjadi semangat. Memperkuat kualitas pendidikan, perlindungan profesi guru Hingga peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, di tengah tantangan era digital.
“PGRI itu rumah besar guru. Rumah tempat meningkatkan kualitas SDM guru, rumah perjuangan guru menuju pendidikan yang lebih baik sesuai amanah konstitusi. Karena itu rumah besar ini harus kita jaga,” ujar Rediyono,
Ia menegaskan, kepengurusan PGRI Kaltim periode baru. Berkomitmen membangun sinergi dan kolaborasi, dengan seluruh pemangku kepentingan. Termasuk pemerintah daerah, demi mewujudkan sistem pendidikan yang lebih baik.
Ia menilai, para guru memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial yang mampu memengaruhi lingkungan sekitar. Mulai dari keluarga, hingga masyarakat luas.
Menurutnya, kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari investasi serius terhadap sektor pendidikan.
“Kita semua yakin negara maju adalah negara yang berpikiran pada sektor pendidikan,” tegasnya.
Di era transformasi digital, kata Rediyono, peran PGRI semakin penting. Dalam memperkuat profesionalisme, kesejahteraan, hingga perlindungan hukum guru.
Karena itu, PGRI Kaltim akan fokus menjalankan program peningkatan kompetensi SDM guru. Khususnya dalam penguasaan teknologi digital, adaptasi kebijakan pendidikan, dan penguatan pendidikan profesi.
Selain itu, perlindungan hukum guru juga menjadi perhatian serius organisasi.
“Di era sekarang guru sangat rentan terhadap konflik-konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena perubahan masyarakat berlangsung sangat cepat,” katanya.
Ia juga mengapresiasi kehadiran Wakil Gubernur Kaltim dalam pelantikan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan guru di daerah.
“Mudah-mudahan kebersamaan ini memberikan semangat dan motivasi bagi kita dalam mengkapitalisasi kompetensi untuk mengabdikan diri pada dunia pendidikan,” ujarnya.
Menurut Rediyono, kekuatan pendidikan di Kalimantan Timur terletak pada peran sekitar 72 ribu guru yang tersebar di seluruh wilayah, mulai tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga daerah pelosok.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PGRI Teguh Sumarno menegaskan bahwa profesi guru memegang posisi fundamental dalam menentukan arah pembangunan bangsa.
Menurut dia, setelah orang tua, guru menjadi sosok paling penting dalam membentuk karakter generasi penerus.
“Kekuatan dunia ini yang pertama adalah orang tua secara biologis, yang kedua adalah guru dan dosen,” kata Teguh.
Ia menyebut dinamika sosial-politik Indonesia saat ini membutuhkan penguatan karakter bangsa, dan peran itu tidak dapat dipisahkan dari guru.
“Maka kuncinya hanya pada karakter, dan kekuatan karakter itu ada pada guru,” ujarnya.
Teguh menekankan PGRI memiliki tiga identitas utama, yakni organisasi profesi, organisasi perjuangan, dan organisasi ketenagakerjaan yang memperjuangkan kesejahteraan guru.
Menurut dia, kesejahteraan guru menjadi faktor penting bagi kualitas pendidikan daerah.
“Saya titip kepada pemerintah daerah, guru ini setiap hari mengajar dan mencerdaskan murid. Maka satu yang mereka butuhkan adalah kesejahteraan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa guru bukan tenaga kerja biasa yang bisa diperlakukan seperti pekerja outsourcing, sebab profesi guru telah dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
“Kalau pemerintah daerah tidak memperhatikan guru, tata kelola daerah juga bisa jelek. Tapi kalau guru diperhatikan, kepentingan daerah akan sukses,” tegasnya.
Teguh berharap Kalimantan Timur dapat menjadi contoh nasional dalam penguatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi profesi.
“Semoga Kalimantan Timur menjadi contoh pendidikan yang baik di Indonesia,” pungkasnya.

