

SAMARINDA: Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda Iswandi meluruskan skema kerja sama pengelolaan aset milik Perumda Varia Niaga di kawasan Tepian Mahakam yang sebelumnya disorot Panitia Khusus (Pansus) LKPJ DPRD Samarinda, karena dinilai hanya memberikan bagi hasil sekitar 10 persen.
Menurut Iswandi, penilaian pansus harus melihat kondisi riil di lapangan dan tidak hanya berfokus pada besaran persentase keuntungan yang diterima perusahaan daerah.
“Pansus jangan sembarangan. Kemarin saya luruskan juga,” ujar Iswandi di DPRD Samarinda, Rabu, 20 Mei 2026.
Sorotan pansus sebelumnya mengarah pada pengelolaan kafe dan wahana jetski di kawasan Tepian Mahakam yang dinilai belum memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan Perumda Varia Niaga.
Dalam temuan lapangan, pansus menyebut sebagian usaha di kawasan tersebut dikerjasamakan dengan pihak swasta sehingga Varia Niaga hanya memperoleh bagi hasil sekitar 10 persen yang dinilai sangat kecil.
Namun Iswandi menilai, angka 10 persen tersebut harus dipahami sebagai pembagian dari pendapatan bruto bukan keuntungan bersih.
“10 persen itu kotor, bukan net. Kalau dijadikan net itu bisa jatuhnya 30-an persen,” katanya.
Ia menjelaskan dalam skema kerja sama tersebut, Perumda Varia Niaga tidak menanggung biaya operasional maupun investasi awal yang dilakukan pengelola.
Menurutnya, pihak pengusaha muda yang mengelola lokasi justru telah mengeluarkan biaya cukup besar untuk membersihkan kawasan hingga membangun fasilitas usaha.
“Itu aset pemerintah kota yang terbengkalai. Anak-anak muda ini investasi di situ, bersihkan tempat, pasang listrik dan lain sebagainya,” ujarnya.
Iswandi juga menyebut sebelum dikelola, kawasan tersebut dalam kondisi kumuh dan tidak tertata.
“Dulu parah. Banyak bekas minuman dan kotor. Sekarang ada anak-anak muda kreatif yang mau mengelola itu,” katanya.
Karena itu, ia meminta pengembangan usaha di kawasan Tepian Mahakam tidak hanya dilihat dari sisi keuntungan finansial semata, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi yang muncul.
“Jangan bicara untung rugi dulu. Multiplayer effect itu banyak. Lapangan kerja terbuka, tempat jadi bersih, orang punya ruang usaha,” ujarnya.
Ia pun meminta agar upaya pelaku usaha muda dalam menghidupkan kawasan Tepian Mahakam mendapat dukungan, bukan justru dipersoalkan sejak awal.
“Jangan belum-belum sudah divonis begitu. Takut orang-orang mau usaha, anak-anak muda mau kreatif,” katanya.
Menurut Politisi PDIP itu, kehadiran usaha di kawasan tepian sungai tidak hanya dinilai dari besarnya keuntungan yang diterima pemerintah daerah, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi yang muncul, termasuk terbukanya lapangan pekerjaan dan hadirnya ruang publik baru bagi masyarakat.
“Setidaknya itu adalah teras, tempat yang bisa dijadikan salah satu beranda Samarinda. Orang luar masuk nongkrong di pinggir sungai,” pungkasnya.

