

SAMARINDA: Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda Anhar menyebut transformasi pendidikan berbasis digital di Kota Samarinda masih belum merata, terutama di sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran dengan keterbatasan akses internet.
Hal itu disampaikan Anhar usai menerima kunjungan kerja Komisi IV DPRD Kabupaten Kediri yang datang untuk mempelajari sistem pendidikan berbasis digital di Samarinda, Rabu, 20 Mei 2026.
“Pada prinsipnya mereka ingin mengetahui lebih jauh tentang sistem transformasi pendidikan yang berbasiskan digitalisasi. Karena perkembangan pendidikan saat ini tidak lepas dari perkembangan digitalisasi,” ujar Anhar.
Namun menurutnya, penerapan transformasi digital pendidikan di Samarinda hingga kini belum memiliki indikator keberhasilan yang jelas.
Anhar menilai salah satu tolok ukur keberhasilan program pendidikan digital adalah penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait transformasi pendidikan berbasis digital.
“Nah, Samarinda itu sebenarnya belum dapat apa-apa. Penghargaan apa pun belum ada,” katanya.
Ia menjelaskan, terdapat kategori penilaian dalam program transformasi pendidikan digital seperti unggul, maju, dan berkembang. Sementara Kota Kediri justru telah memperoleh penghargaan kategori maju.
“Kalau sekarang kita itu masih jauh kalau masalah hal-hal seperti itu,” ujarnya.
Selain itu, Anhar juga menyoroti belum meratanya infrastruktur jaringan internet di sejumlah sekolah di Samarinda.
Menurutnya, beberapa sekolah memang sudah menerapkan sistem digital, baik dalam administrasi maupun pembelajaran, tetapi belum menyeluruh.
“Ada sekolah yang sudah berbasis digital, rapotnya dan sistemnya sudah digital, tapi satu dua sekolah saja,” katanya.
Ia menyebut sekolah-sekolah di kawasan pinggiran masih mengalami kendala akses jaringan internet sehingga penerapan digitalisasi pendidikan belum optimal.
“Sekolah di Bentuas atau Bukuan sana dapat sinyal saja susah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Kediri Dodi Purwanto mengatakan, kunjungan tersebut dilakukan untuk bertukar informasi terkait penerapan pendidikan berbasis digital di Samarinda.
“Kami berharap apa yang kami dapatkan di sini bisa diterapkan di Kabupaten Kediri,” ujarnya.
Menurut Dodi, berdasarkan paparan yang diterima, terdapat sekitar 49 SMP di Samarinda yang telah menerapkan sistem sekolah berbasis digital.
“Meski memang ada beberapa yang belum bisa terakses WiFi,” lanjutnya.
Ia menjelaskan penerapan sekolah berbasis digital saat ini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan perangkat teknologi, tetapi juga sistem pembelajaran dan administrasi pendidikan.
“Kalau belajar dari era Covid kemarin, siswa-siswi kan sudah menggunakan digital meskipun hanya dengan HP. Ini juga bagian dari penerapan sekolah berbasis digital,” tandasnya.

