SAMARINDA: Berburu buku di tengah festival literasi tak selalu berakhir dengan membawa pulang judul yang sudah lama masuk daftar incaran.
Bagi sebagian pembaca, tumpukan buku dengan harga yang lebih terjangkau. Justru membuka kesempatan untuk menemukan bacaan baru, termasuk buku yang sebelumnya tidak terpikir untuk dibeli.
Pengalaman itu dirasakan Zahra dan Zaskia, dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda yang mengunjungi Festival Literasi Kaltim bersama Out of the Boox Gudang Buku Keliling.
Keduanya datang, setelah mendapat informasi kegiatan tersebut dari seorang teman melalui Instagram. Sama-sama memiliki kebiasaan membaca sejak sekolah dasar, Zahra dan Zaskia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melihat-lihat koleksi buku yang tersedia.
Namun, pilihan bacaan mereka tetap dipengaruhi minat masing-masing.
Zahra yang merupakan mahasiswa jurusan hukum, lebih tertarik pada buku-buku yang berkaitan dengan isu sosial.
Dalam kunjungannya, ia membawa pulang Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire dan Down and Out in Paris and London karya George Orwell.
“Biasanya ke isu-isu sosial, dikemas pakai novel. Atau kalau memang lagi mood, bacanya yang nonfiksi,” ujar Zahra usai berbelanja buku dalam Festival Literasi Kaltim di Aula Tower Dispora Kaltim, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Ketertarikannya terhadap buku sosial, juga membuat pilihan bacaannya terkadang bersinggungan dengan bidang hukum yang sedang dipelajarinya.
Berbeda dengan Zahra, Zaskia lebih menyukai novel romance serta genre crime, thriller, dan mystery.
Namun, salah satu buku yang dibelinya dalam festival kali ini justru bukan bacaan yang sejak awal ia cari.
Ia memilihnya secara blind buy, setelah membaca gambaran singkat mengenai ceritanya.
Buku tersebut berkisah tentang seorang laki-laki yang bekerja sama dengan iblis, sementara seorang perempuan berusaha menghentikannya dengan cara yang tidak biasa.
Rasa penasaran membuat Zaskia memutuskan membawa buku itu pulang. Terlebih, harganya sedang mendapat potongan 50 persen. Buku yang semula dibanderol sekitar Rp120 ribuan itu akhirnya dibeli dengan harga Rp64.500.
“Kayak blind buy aja. Kebetulan dari penerbit yang bagus kan, jadi saya penasaran,” ungkapnya.
Sementara itu, Zahra menghabiskan sekitar Rp137 ribu untuk dua buku pilihannya. Bagi keduanya, harga memang menjadi salah satu pertimbangan ketika berburu buku. Namun, buku yang murah belum tentu langsung menjadi pilihan utama.
Menurut Zahra, sebagian buku yang mendapat harga lebih rendah bukan merupakan judul yang selama ini paling banyak dicari pembaca.
“Kalau dari harga lumayan sih murah. Cuma kurangnya itu karena dia yang murah bukan yang benar-benar bestseller,” tuturnya.
Meski demikian, keberadaan buku dengan harga terjangkau tetap memberikan ruang bagi pembaca untuk mencoba judul yang sebelumnya belum mereka kenal.
Buku Menjadi Kebiasaan
Ketertarikan Zahra dan Zaskia terhadap buku sendiri bukan sesuatu yang baru muncul ketika mereka mengunjungi festival.
Keduanya sudah mengenal kebiasaan membaca sejak SD. Salah satu pemicunya berasal dari lingkungan keluarga, tepatnya perpustakaan kecil milik adik ayah mereka yang berada di kamar.
Dari sana, mereka terbiasa datang untuk membaca. Ketika kemudian menemukan bazar yang menjual buku dengan harga sekitar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, kebiasaan tersebut berkembang menjadi ketertarikan untuk mengoleksi buku.
Kebiasaan itu sempat berkurang ketika mereka memasuki SMP karena masih belum memiliki uang sendiri untuk membeli banyak buku.
Namun, kegemaran membaca tetap bertahan hingga keduanya duduk di bangku kuliah.
Orang tua mereka, tidak secara khusus memberikan uang untuk membeli buku. Zahra dan Zaskia justru belajar mengatur uang sendiri jika ingin menambah koleksi bacaan.
Kini, ketika festival literasi hadir di Samarinda, keduanya kembali punya ruang untuk melakukan kebiasaan yang sudah mereka jalani sejak kecil: melihat-lihat buku, memilih bacaan sesuai minat, dan sesekali memberi kesempatan pada judul yang belum pernah mereka kenal.
Festival pun akhirnya bukan hanya soal transaksi buku. Bagi pembaca seperti Zahra dan Zaskia, ada pengalaman menemukan sesuatu yang baru di antara rak-rak bacaan yang mungkin sebelumnya tidak pernah masuk dalam daftar pencarian.

