SAMARINDA: Masuk sebagai 10 provinsi dengan tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tertinggi di Indonesia. Kalimantan Timur (Kaltim), saat ini berada di peringkat kesembilan secara nasional.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, Buyung Dodi Gunawan mengatakan, posisi tersebut menunjukkan potensi karhutla di Kaltim. Perlu mendapat perhatian serius, terlebih saat titik panas mulai meningkat.
“Kalau tiga provinsi terbesar karhutla di wilayah Kalimantan, itu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Hampir setara dengan tiga provinsi di Sumatera. Sedangkan kita di posisi kesembilan nasional,” ujarnya di Samarinda, Rabu, 26 Agustus 2026.
Kondisi tersebut mendorong Pemprov Kaltim menetapkan status Siaga Bencana. Sebagai langkah menghadapi potensi peningkatan karhutla.
Penanganan tidak hanya dilakukan BPBD. Tim di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota dikerahkan bersama unsur TNI-Polri, perusahaan dan masyarakat untuk memantau sekaligus menangani titik api yang muncul di lapangan.
Berdasarkan catatan BPBD Kaltim, kebakaran telah berdampak pada lahan di sejumlah wilayah. Berau menjadi daerah dengan luasan terdampak paling besar, yakni lebih dari 400 hektare.
Di bawahnya terdapat Kutai Kartanegara dengan 219 hektare dan Kutai Barat 147 hektare. Sementara Paser dan Kutai Timur masing-masing tercatat sekitar 89,3 hektare.
Wilayah lain yang turut terdampak yakni Penajam Paser Utara seluas 48,1 hektare, Samarinda 40,5 hektare, Mahakam Ulu 7 hektare, Bontang 3 hektare, serta Balikpapan sekitar 0,5 hektare.
Untuk memperkuat pencegahan, Dinas Perkebunan Kaltim juga mengintensifkan pengendalian kebakaran lahan dan kebun.
Upaya tersebut didukung Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Dalkarlabun) serta 186 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang tersebar di 10 kabupaten/kota.
Buyung menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sebab pencegahan sejak kemunculan titik api, menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas.
Pemprov Kaltim pun mengapresiasi keterlibatan relawan, petugas gabungan, perusahaan dan masyarakat yang turut melakukan penanganan di lapangan.

