

SAMARINDA: Kontribusi sektor perhotelan terhadap pendapatan daerah Kota Samarinda mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Hingga September 2024, penerimaan dari sektor tersebut tercatat sekitar Rp160 miliar, sementara pada 2023 kontribusinya berada di kisaran Rp200 miliar.
Ketua DPRD Kota Samarinda Helmi Abdullah mengatakan penurunan tersebut tidak terlepas dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak terhadap berkurangnya berbagai kegiatan yang selama ini melibatkan sektor perhotelan.
Menurutnya, sejumlah kegiatan pemerintah yang bersifat seremonial untuk sementara ditiadakan sebagai bagian dari efisiensi.
Kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap aktivitas hotel, khususnya kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan acara maupun pertemuan.
“Penurunan itu sebenarnya karena ada efisiensi dari pemerintah sendiri. Banyak kegiatan-kegiatan yang sifatnya seremonial sementara ini ditiadakan,” ujar Helmi di Samarinda, Rabu, 7 Oktober 2026.
Meski demikian, Helmi berharap kebijakan pemerintah pusat terkait dana transfer ke daerah ke depan dapat kembali memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk menjalankan lebih banyak program dan kegiatan.
Menurutnya, peningkatan aktivitas pemerintah daerah berpotensi memberikan dampak positif terhadap sektor perhotelan di Samarinda. Berbagai kegiatan pemerintahan nantinya dinilai dapat kembali melibatkan hotel sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan.
“Kalau kegiatan-kegiatan pemerintah kembali berjalan, pastilah akan banyak melibatkan hotel-hotel yang ada di Kota Samarinda,” jelasnya.
Selain mengandalkan aktivitas pemerintah, Helmi mendorong pelaku usaha perhotelan bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk lebih agresif mempromosikan Samarinda sebagai tujuan kunjungan.
Upaya tersebut dinilai penting untuk menarik lebih banyak tamu dari luar daerah agar memilih menginap di hotel-hotel Samarinda. Dengan meningkatnya kunjungan, sektor perhotelan dan restoran diharapkan turut memberikan kontribusi lebih besar terhadap pendapatan daerah.
“Dengan adanya itu, saya yakin target pendapatan untuk PHRI, khususnya hotel dan restoran, akan meningkat,” katanya.
Di sisi lain, Legislator Gerindra itu melihat pertumbuhan industri perhotelan juga membawa dampak positif dari sisi penyerapan tenaga kerja. Kehadiran hotel baru diperkirakan akan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Ia menyebut satu hotel saja berpotensi merekrut belasan hingga puluhan pekerja, sehingga bertambahnya jumlah hotel di Samarinda otomatis membuka peluang kerja baru.
“Anggaplah satu hotel bisa merekrut 10 sampai 20 orang, artinya kalau hotel bertambah, tenaga kerja juga bertambah,” ujarnya.
Helmi berharap pengelola hotel yang berinvestasi di Samarinda dapat memprioritaskan masyarakat lokal dalam proses rekrutmen. Namun, di sisi lain, masyarakat yang ingin bekerja di sektor perhotelan juga diminta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, peningkatan kompetensi penting agar tenaga kerja lokal tidak hanya mengisi posisi staf atau pekerja operasional, tetapi juga mampu menduduki jabatan strategis di industri perhotelan.

