SAMARINDA: Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Timur (Diskominfo Kaltim) Ririn Sari Dewi menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang melibatkan ajudan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dengan mahasiswa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda, Senin sore 19 Oktober 2026.
Ia menyebut insiden itu menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim, terutama dalam membangun komunikasi dan kerja sama dengan masyarakat, mahasiswa, serta media.
“Atas nama Provinsi Kaltim kami mengajukan permohonan maaf. Ya mungkin dalam kerja sama dengan masyarakat dan mahasiswa ada beberapa hal yang miskomunikasi,” ujar Ririn di Kantor Gubernur Kaltim, Selasa, 20 Oktober 2026.
Ia menjelaskan bahwa pada hari kejadian, Gubernur Rudy Mas’ud memiliki sejumlah agenda yang cukup padat. Kegiatan tersebut antara lain pengarahan internal, audiensi dengan Bupati Penajam Paser Utara (PPU), pertemuan dengan Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) terkait kasus bayi yang meninggal dan diduga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta pertemuan dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Menurut Ririn, rangkaian agenda tersebut menjadi bagian dari situasi yang berlangsung saat mahasiswa GMNI berupaya meminta penjelasan kepada gubernur setelah menggelar demonstrasi terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur.
Meski demikian, ia menegaskan insiden tersebut akan menjadi evaluasi bagi Pemprov Kaltim agar komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat dapat berjalan lebih baik ke depannya.
“Intinya ke depan ini menjadi bahan evaluasi untuk Provinsi Kaltim. Semoga ke depan kerja sama dengan masyarakat, media, dan mahasiswa juga lebih baik,” katanya.
Insiden tersebut melibatkan ajudan gubernur berinisial ART di Halaman Masjid Baitul Mutaqien Kompleks Perkantoran Pemprov Kaltim, setelah aksi demonstrasi GMNI Samarinda pada Senin, 19 Oktober 2026.
Dalam video yang beredar di media sosial, seorang mahasiswa terlihat menyapa gubernur dan menanyakan alasan dirinya tidak menemui massa aksi. Gubernur menjawab bahwa dirinya memiliki jadwal kegiatan yang padat.
Dalam situasi tersebut, ART terlihat berhadapan dengan mahasiswa. Gerakan tubuh ajudan yang dinilai provokatif, termasuk ketika tampak menyenggolkan badan ke arah mahasiswa, kemudian menjadi sorotan publik dan memicu dugaan intimidasi.
Saat ditanya mengenai status ajudan yang disebut merupakan anggota kepolisian, Ririn membenarkan bahwa personel tersebut diperbantukan.
“Iya diperbantukan,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah ada teguran khusus terhadap ajudan tersebut, Ririn menyatakan mekanisme terkait personel kepolisian berada di institusi Polri.
“Mekanismenya kan di Polri bukan di kami,” pungkasnya.

