BONTANG : Kasus kekurangan gizi atau stunting di Kelurahan Bontang Kuala masih jauh dari target yang ditetapkan pemerintah pusat yakni 14 persen.
Lurah Bontang Kuala Suiza Ixan mengatakan, berdasarkan data SSGI kasus stunting di wilayahnya berada di angka 22 persen.
Data ini juga menunjukkan, Kelurahan Bontang Kuala menjadi salah satu daerah penyumbang angka stunting cukup tinggi bagi Kota Bontang, setelah Kelurahan Kanaan sebesar 26 persen dan Kelurahan Bontang Lestari sebesar 23 persen.
Suiza mengatakan, tingginya kasus stunting di wilayahnya di karenakan faktor kemiskinan sehingga berdampak pada pola konsumsi masyarakat.
“Tingginya stunting Bontang Kuala karena faktor kemiskinan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok makanan yang sehat,”ujarnya, Senin (16/1/2022).
Oleh karena itu, Kelurahan Bontang Kuala akan menerapkan sejumlah strategi bekerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk penurunan angka stunting di wilayah wisata unggulan Bontang ini.
“Targetnya kan harus 13 atau 14 persen, sesuai dengan instruksi presiden,”tuturnya.
Ia mengatakan tidak hanya meningkatkan kolaborasi dengan setiap OPD untuk percepatan program penurunan stunting, namun pihaknya akan berperan lebih aktif menaiknya edukasi kepada masyarakat, serta mendorong kemampuan kelompok masyarakat untuk memperbaiki manajemen data terkait stunting.
“Kami galakan sosialisasi pada pasangan suami istri (pasutri) baru menikah, terkait apa itu stunting, penyebabnya dan penanganannya itu seperti apa,”jelasnya.
Menurutnya, tinggi kasus stunting dikarenakan minimnya akan pentingnya pemenuhan gizi anak mulai sejak masih berada dalam kandungan ataupun telah menjadi balita.
“Perhatian kebutuhan asupan gizi ibu hamil kan sangat penting. Karena ketika sejak dalam kandungan gizi tidak diperhatikan akan berdampak pasca lahir. Maka dari itu kita galakan sosialisasi pada keluarga muda apa itu stunting,”tandasnya.

