SAMARINDA: Kabut asap tebal yang sempat menyelimuti Kota Samarinda sejak 16 hingga 19 September 2026 belum sepenuhnya menandakan bahwa partikel asap telah hilang dari udara.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) mengingatkan masyarakat tetap waspada karena asap masih dapat bertahan di atmosfer dan kembali turun ke permukaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi minimnya hujan yang terjadi selama lebih dari 30 hari. Tidak adanya hujan membuat partikel-partikel di udara tidak tersapu secara optimal.
Selain itu, asap akibat kebakaran juga tidak dapat terangkat dan menyebar dengan baik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Akibatnya, partikel asap tertahan di lapisan atmosfer tertentu.
“Tidak adanya hujan menyebabkan partikel-partikel yang ada di udara itu tidak turun. Kemudian efek dari kebakaran juga tidak bisa naik sampai ke atas, sampai berada di lapisan atmosfer tertentu, sehingga semua tertahan di sana,” jelas Buyung di Posko Karhutla BPBD Kaltim, Selasa 22 September 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh fenomena awan inversi. Berdasarkan informasi dari BMKG, awan inversi dapat menekan asap yang sebelumnya tertahan di atmosfer turun mendekati permukaan bumi.
Akibatnya, konsentrasi asap di dekat permukaan meningkat dan membuat udara terlihat berkabut. Pergerakan angin pun tidak serta-merta menghilangkan asap karena partikel hanya berputar di sekitar wilayah tersebut.
“Kalau sudah ada awan inversi, itu akan menekan asap turun ke bawah. Sehingga dengan menekan ke bawah, turunlah ke permukaan bumi ini. Walaupun ada angin, ya muter-muter saja,” ujarnya.
Buyung mengibaratkan kondisi tersebut seperti asap yang terperangkap di dalam ruangan. Akumulasi partikel asap di dekat permukaan kemudian turut menyebabkan kualitas udara menjadi buruk.
Ia menjelaskan, kabut asap dapat terlihat menipis ketika terjadi perubahan kondisi cuaca. Apabila terdapat bukaan awan dan sinar matahari mulai menembus permukaan, pemanasan dapat membuat asap kembali bergerak naik.
Namun, kondisi itu bukan berarti partikel asap benar-benar hilang dari atmosfer.
“Asap tersebut bukan berarti hilang. Masih ada di atmosfer dan dia bisa jadi turun. Kalau dia turun, terutama di waktu subuh atau pagi hari,” katanya.
Karena itu, masyarakat tetap perlu mewaspadai kemungkinan munculnya kembali kabut asap, terutama pada malam hingga pagi hari. Asap yang bergerak naik ketika matahari muncul dapat kembali turun ketika kondisi atmosfer mendukung.
Hujan dengan intensitas cukup dan berlangsung secara berkelanjutan diperlukan untuk membantu membersihkan partikel asap dari udara. Hujan dalam satu hari dinilai belum tentu cukup untuk menghilangkan asap secara menyeluruh.
“Kalau yang bisa menyebabkan asap itu benar-benar hilang, kita harus menunggu musim hujan atau hujan yang cukup masif dan tidak bisa dalam satu hari,” tegasnya.
Selama musim hujan belum tiba, BPBD meminta masyarakat tidak menganggap kondisi udara yang membaik sebagai tanda bahwa seluruh asap telah hilang.
Masyarakat juga diimbau menggunakan masker, terutama ketika kabut kembali terlihat pekat atau kualitas udara dirasakan memburuk.
“Selama belum musim hujan, asap itu masih ada. Tolong masyarakat menjaga dengan menggunakan masker, terutama apabila terlihat bahwa asap itu masih cukup banyak atau cukup pekat,” pungkasnya.

