SAMARINDA: Dua hari menjelang Ramadan, kawasan Kuburan Muslimin di Jalan Abul Hasan mendadak ramai.Peziarah datang silih berganti sejak pagi hingga menjelang magrib. Di sisi gerbang masuk, lapak-lapak bunga musiman kembali bermunculan.

Salah satunya milik Tiara (46), perempuan yang berjualan setahun sekali itu mengaku lapaknya mulai ramai sejak Jumat lalu.
“Sudah ramai sejak Jumat kemarin. Saya jualannya memang cuma setahun sekali, menjelang Ramadan saja,” ujarnya saat ditemui di lapaknya, Senin, 16 Februari 2026.
Tiara menjual bunga campur untuk tabur seharga Rp10 ribu per paket berisi tiga kantong plastik kecil yang terdiri dari melati dan mawar.
Selain itu, ia juga menawarkan bunga rampai dengan harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per bungkus.
“Kalau bunga rampai ambilnya Rp15 ribu, kadang dijual Rp20 ribu, kadang Rp25 ribu,” katanya.
Tak hanya bunga, Tiara turut menjual air kemasan 1,5 liter. Dua botol dibanderol Rp5 ribu, sedangkan satu botol Rp3 ribu.
Ia menyebut keuntungan terbesar justru berasal dari pandan yang ditanam sendiri di kebun serta penjualan air minum.
“Alhamdulillah, untung paling besar bisa sampai Rp500 ribu sehari,” ungkapnya.
Menurutnya, puncak keramaian biasanya terjadi sehari sebelum puasa dimulai. Jika Ramadan jatuh pada Kamis, maka Rabu menjadi hari terakhir pemakaman dipadati peziarah.
“Besok biasanya ramai lagi, apalagi kalau tanggal merah. Terakhir penuh itu sehari sebelum puasa,” tuturnya.
Selain menjelang Ramadan, momen paling ramai lainnya terjadi setelah Idulfitri. Sekitar sepekan usai Lebaran, warga kembali berdatangan untuk berziarah.
“Ramai lagi habis Lebaran, seminggu itu jualan lagi,” katanya.
Keramaian umumnya terjadi pada pagi dan sore hari. Sementara siang hari cenderung sepi karena cuaca panas dan waktu salat.
“Pagi sama sore ramai. Sore sampai jam enam,” ucapnya.
Lapak yang ditempati Tiara merupakan warisan dari sang ibu. Ia telah akrab dengan lokasi tersebut sejak kecil, bahkan memiliki kenangan masa kecil ketika kawasan itu belum dialiri listrik dan masih menggunakan lampu minyak serta obor.
“Saya ini lahir tahun 80. Dulu belum ada lampu, masih pakai minyak dan obor kalau belajar,” ujarnya mengenang.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah membantu ibunya berjualan bunga musiman menjelang Ramadan.
Kini, setelah sang ibu tiada, Tiara melanjutkan tradisi tersebut.“Ini warisan ibu saya,” katanya singkat.
Ia mengaku tidak dipungut biaya untuk berjualan karena hanya membuka lapak setahun sekali.
Sehari-hari, Tiara adalah ibu rumah tangga yang mengurus tiga anaknya. Sementara sang suami bekerja sebagai penjaga malam sekaligus pengangkut sampah di sebuah kafe dan warung makan ayam goreng Banjar.
Bagi Tiara, Ramadan bukan sekadar momen peningkatan pendapatan, melainkan kelanjutan tradisi keluarga yang telah dijalani puluhan tahun.

