JAKARTA: Penetrasi internet Indonesia yang baik, selain didukung jaringan 5G, juga generasi muda yang melek teknologi ikut mendongkrak percepatan internet. Penguatan ini mendorong Indonesia, mengalami kemajuan pesat dalam digitalisasi sektor keuangan.
Untuk memberi pengakuan digitalisasi sektor keuangan, khususnya asuransi, diselenggarakan Chief Financial Officer (CFO) Award 2026 dan Top Digital Financial Award (TDFA) 2026 Media Asuransi.
Tahun ini tema yang diambil yaitu “From Data to Understanding-Customer Insight, Hyper Personalization, and the Rise of Human-Centered Digital Finance”.
Menurut S.Edi Santosa, Plt.Direktur PT Media Asuransi Indonesia, bertujuan untuk memberikan pengakuan dan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan dalam industri asuransi, yang telah berhasil melakukan transformasi digital yang memberi kontribusi signifikan.
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, melalui inovasi digital. Ada yang berubah dalam perkembangan adopsi teknologi di jasa keuangan.
“Jika sebelumnya menekankan pada akses, kini menjadi ke memberikan pengalaman,” kata Edi pada penyerahan award.
Selain itu, kini AI telah menjadi standar baru, bukan lagi pembeda. Sedang yang terakhir adalah personalisasi, yakni bagaimana perusahaan menerjemahkan data pengguna menjadi layanan yang terasa dibuat bagi penggunanya.
“Saya juga tidak akan masuk terlalu dalam ke bagaimana riset dan penilaian dilakukan untuk TDFA 2026. Nanti biarlah perwakilan Dewan Juri TDFA 2026 yang akan memberikan penjelasan lebih detail,” lujarnya.
Dikatakan, semua menyadari bahwa industri asuransi menghadapi tantangan yang berat pada tahun 2025. Di tahun lalu perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen. Industri asuransi jiwa maupun asuransi umum, masih mencatatkan kinerja keuangan yang cukup baik.
Industri asuransi jiwa mencatatkan laba setelah pajak sebesar Rp10 triliun, didorong dari peningkatan signifikan hasil investasi yang disertai dengan penurunan klaim.
Industri asuransi jiwa menunjukkan kondisi kesehatan keuangan yang kuat, dengan rasio RBC sebesar 491 persen.
Namun, dari sisi operasional, combined ratio tercatat sebesar 107 persen dengan rasio klaim mencapai 81 persen. Meski demikian, RKI masih di atas 100 persen yang menandakan investasi masih mampu menutup kewajiban teknis.
Di sisi lain, industri asuransi umum mencatat laba setelah pajak sebesar Rp16 triliun, dipicu oleh peningkatan pendapatan underwriting dan hasil investasi.
Industri asuransi umum juga menunjukkan kondisi kesehatan keuangan yang kuat dan stabil dengan rasio RBC sebesar 387 persen.
Dari sisi operasional, kinerja industri asuransi umum tergolong baik dengan combined ratio sebesar 71 persen, menunjukkan bahwa biaya klaim dan operasional masih jauh di bawah pendapatan premi.

