SAMARINDA: Tingginya kebutuhan lapangan pekerjaan di Kota Samarinda kembali terlihat dari membludaknya peminat Mahakam Job Fair 2026. Bahkan sebelum bursa kerja resmi dibuka di Samarinda Square, Rabu 23 Juli jumlah pencari kerja yang mendaftar sudah melampaui dua kali lipat lowongan yang disediakan perusahaan.
Data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Samarinda mencatat, hingga pukul 09.00 Wita, sebanyak 1.900 pencari kerja telah mengisi formulir pendaftaran.
Sementara itu, 36 perusahaan peserta job fair hanya membuka 764 lowongan kerja yang tersebar dalam 129 jenis jabatan. Kondisi tersebut menunjukkan persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat. Rata-rata satu lowongan berpotensi diperebutkan lebih dari dua pelamar.
Selain mempertemukan perusahaan dengan pencari kerja, Mahakam Job Fair 2026 juga menghadirkan Bursa Kerja Khusus (BKK), lembaga pelatihan kerja, layanan pembuatan kartu pencari kerja (AK-1), hingga peluncuran fitur auto matching pada laman tepian.samarinda.go.id.
Fitur tersebut dirancang untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan berdasarkan kompetensi yang dimiliki sehingga proses rekrutmen menjadi lebih efektif.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan kebutuhan lapangan pekerjaan di Kota Samarinda terus meningkat seiring pesatnya perkembangan kota sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Kondisi tersebut turut dipengaruhi arus urbanisasi yang membuat Samarinda menjadi tujuan masyarakat, baik dari dalam maupun luar daerah, untuk mencari penghidupan.
“Karena itu kebutuhan dunia kerja di Samarinda pasti terus bertambah,” ujarnya.
Menurut Andi Harun, meningkatnya jumlah penduduk membawa konsekuensi terhadap kebutuhan lapangan kerja. Karena itu, pemerintah daerah terus memperkuat sinergi dengan dunia usaha dan sektor industri agar perusahaan yang beroperasi di Samarinda memberikan prioritas kesempatan kerja bagi warga lokal.
Selain memperluas akses melalui penyelenggaraan Mahakam Job Fair 2026, Pemkot Samarinda juga berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) maupun lembaga pendidikan vokasi.
Ia menilai peningkatan keterampilan menjadi langkah penting agar masyarakat tidak hanya bergantung pada lowongan pekerjaan yang tersedia, tetapi juga mampu menciptakan usaha secara mandiri.
“Kalau mereka memiliki keterampilan khusus, mereka tidak 100 persen bergantung pada job fair. Mereka juga bisa membuka usaha baru dan menciptakan lapangan kerja,” katanya.
Andi Harun memastikan program peningkatan kualitas tenaga kerja tetap menjadi perhatian pemerintah meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Menurutnya, alokasi anggaran untuk mendukung peningkatan kompetensi tenaga kerja akan tetap diupayakan dalam penyusunan APBD 2027.
Baginya, membuka akses terhadap pekerjaan bukan sekadar memenuhi target pembangunan daerah, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Saya selalu bilang, kalau urusan seperti ini kita bantu, bukan hanya sekadar mencapai target program. Orang yang tadinya tidak punya pekerjaan lalu bisa mendapatkan penghasilan, itu adalah keberkahan,” pungkasnya.

