
SAMARINDA: Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) Sapto Setyo mengaku banyak menerima keluhan masyarakat terkait lahan kuburan, khususnya di perkotaan.
“Melihat kondisi riil yang ada, terkhususnya di perkotaan kita memerlukan lahan kuburan harus banyak,” kata Sapto.
Hal itu ia katakan usai Rapat Paripurna Ke-6 DPRD Provinsi Kaltim di Gedung Utama (B) Kantor DPRD Provinsi Kaltim Jalan Teuku Umar Karang Paci Samarinda, Senin (25/3/2024).
“Karena saya berasal dari dapil Samarinda, itu menjadi keluhan masyarakat Samarinda bahwa banyaknya tanah makam itu masih menumpuk digonta ganti kan kita juga sayang. Kita juga mikir kapan giliran,” ungkapnya.
Ia menyebut, persoalan tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah kota dan kabupaten. Namun permasalahannya ialah baik kota maupun kabupaten mengaku tidak ada alokasi anggaran.
Sapto mengatakan dirinya sudah mencoba untuk mengusulkan perihal tersebut. Artinya, dengan adanya keuangan yang lebih di provinsi, maka bisa membantu untuk pengadaan tanah kuburan sehingga tidak ada lagi bahasa tak ada dana.
“Keluhan banyak setiap kita reses, alasannya kota tidak ada duit. Selalu bicara kota tidak ada duit,” katanya.
“Dari ketidakadaan anggaran, alokasi itu maka kita bantu dari provinsi hadir. Jadi saling supportlah karena provinsi juga longgar dana,” terangnya.
Politisi Fraksi Golkar itu mengungkapkan, pihaknya akan segera mengumpulkan seluruh pemerintah daerah kabupaten/kota dengan memanggil TAPD atau asisten untuk bersepakat membentuk tim pengadaan lahan kuburan.
“Provinsi bisa hadir, tapi teknisnya di kabupaten/kota. Kita tinggal bayar, asal jelas melalui prosedurnya, tanah siapa, berapa jumlahnya, berapa harganya kita realisasikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, seiring dengan berkembangnya Ibu Kota Nusantara (IKN) maka manusia di Kaltim pasti bertambah dimana dengan jumlah jiwa yang sekarang pun masyarakat sudah mengeluh-eluhkan.
“Kita kan makin lama makin banyak orang datang. Ini demi kemaslahatan umat dan seluruh Kaltim. Saya pikir itu semua pasti disambut untuk pengadaan tanah. Bukan tanah pribadi, tapi untuk makam. Kan kita semua mati sebabnya,” pungkasnya.(*)

