BOGOR: PT Bank BCA Syariah menargetkan bisa naik status menjadi bank devisa pada tahun 2026.
Dengan status tersebut, BCA Syariah bakal bisa melayani berbagai transaksi valuta asing (valas), seperti transfer ke luar negeri, pembukaan Letter of Credit (L/C), hingga transaksi internasional lainnya.
Presiden Direktur BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum, mengatakan pihaknya kini tengah menyiapkan seluruh tahapan perizinan yang dibutuhkan.
“Bila sudah menjadi bank devisa, BCA Syariah dapat melayani transaksi dalam valuta asing. Namun saat ini kami masih dalam tahap menyiapkan perizinan,” ujar Yuli usai acara BCA Syariah Media Workshop 2025 di Novotel Bogor, Jumat, 31 Oktober 2025.
Menurut Yuli, meski belum bisa memastikan waktu pasti terbitnya izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), pihaknya menargetkan proses tersebut bisa rampung pada 2026.
“Kalau sudah berstatus bank devisa, kami bisa membantu nasabah yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri, misalnya menarik uang melalui ATM di luar negeri atau melakukan transaksi menggunakan simpanan valas,” jelasnya.
Yuli juga memaparkan kinerja positif BCA Syariah hingga September 2025. Total aset perseroan meningkat 20,3% secara tahunan (YoY) menjadi Rp18,1 triliun.
Pertumbuhan juga terjadi pada Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik 24,2% YoY menjadi Rp14,2 triliun.
Sementara itu, pembiayaan yang disalurkan naik 17% YoY menjadi Rp12,2 triliun, meliputi segmen komersial dan konsumer.
Dalam mendukung keuangan berkelanjutan, BCA Syariah menyalurkan pembiayaan hijau senilai Rp3 triliun, atau 24,8% dari total pembiayaan.
Penyaluran itu mencakup enam Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL), seperti efisiensi energi, pengelolaan limbah, hingga transportasi ramah lingkungan.
“Kami juga memperkenalkan konsep zero waste dengan mengolah seragam karyawan lama menjadi kain baru. Proyek ini melibatkan kelompok perempuan di Bogor yang dibina Workshop Adrie Basuki,” tutur Yuli.
BCA Syariah juga terus mendorong literasi keuangan syariah melalui kerja sama dengan komunitas Jurnalis Ekonomi Syariah (JES).
Workshop bertajuk Mewujudkan Keberlanjutan Penuh Berkah yang digelar pada 31 Oktober-1 November 2025 menghadirkan pembicara dari OJK dan KNEKS, membahas arah pengembangan industri keuangan syariah nasional.
Yuli menegaskan, inovasi layanan merupakan kunci agar bank syariah bisa tumbuh berkelanjutan di era digital.
“Kami tidak hanya menyediakan layanan keuangan syariah terkini, tetapi juga mengedepankan maqasid syariah untuk memberi nilai tambah sosial dan spiritual,” tutup Yuli.

