SAMARINDA: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Kalimantan Timur (Kaltim) akan mengalami periode musim hujan yang cukup panjang hingga pertengahan tahun 2026.

Kondisi ini diperkuat oleh adanya fenomena La Nina lemah yang diperkirakan bertahan sampai sekitar Juni 2026.
Hal itu disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda Riza Arian Noor di sela kegiatan FGD “Update kondisi musim hujan tahun 2025 dan waspada bencana di Provinsi Kaltim”, Selasa, 2 Desember 2025.
“Kita melihat dinamika atmosfer terkini, dan kita memprediksi adanya kondisi La Nina lemah yang diperkirakan terjadi hingga pertengahan tahun 2026. Wilayah Kaltim juga sudah berada dalam periode musim hujan,” jelas Riza.
Riza menerangkan, secara karakteristik iklim, Kalimantan Timur berbeda dengan wilayah Jawa yang umumnya mengalami pembagian musim relatif seimbang, enam bulan musim hujan dan enam bulan musim kemarau.
“Sedangkan di Kalimantan Timur sangat berbeda. Di sini musim kemaraunya paling panjang sekitar 3 bulan,” ujarnya.
Musim kemarau di Kaltim bisa menjadi sedikit lebih panjang jika ada pengendali iklim seperti El Nino kuat, seperti yang pernah terjadi pada 1997.
Namun dalam kondisi normal, dominasi musim hujan jauh lebih besar.
Untuk periode akhir 2025 hingga pertengahan 2026, BMKG memprakirakan musim hujan akan terus berlangsung.
“Musim hujan masih berlangsung hingga pertengahan bulan Juni tahun 2026. Jadi selama akhir tahun 2025 dan tahun 2026 kita masuk musim hujan,” tegas Riza.
Ia menegaskan, dalam 6-7 bulan ke depan Kalimantan Timur masih akan berada dalam periode musim hujan sehingga berbagai potensi bencana hidrologi harus benar-benar diwaspadai, apalagi kota-kota seperti Samarinda yang dikenal langganan banjir, serta Balikpapan dan daerah lain di sekitarnya.
Riza menjelaskan, secara klimatologis wilayah Kalimantan Timur dibagi ke dalam 22 zona musim (ZOM).
Setiap zona memiliki karakteristik musim dan iklim yang mirip, namun puncak musim hujannya tidak selalu berlangsung pada waktu yang sama.
“Jadi setiap Zom itu berbeda-beda. Samarinda dengan Berau bisa berbeda puncaknya. Makanya setiap Zom punya prediksi masing-masing untuk puncak musim hujan,” terangnya.
Secara umum, puncak musim hujan di Kaltim berada pada beberapa rentang waktu.
“Puncak musim hujannya ada yang di bulan Desember–Januari, ada juga di bulan Maret–April. Jadi misalkan di Samarinda puncaknya bisa saja di Januari, di wilayah Berau berbeda lagi bulannya,” kata Riza.
Dengan kondisi tersebut, ia menekankan pentingnya masyarakat melihat informasi prakiraan cuaca dan iklim yang lebih rinci berdasarkan wilayah masing-masing.
Menjelang pergantian tahun, BMKG menegaskan bahwa Kalimantan Timur masih berada pada periode musim hujan. Artinya, peluang hujan pada malam tahun baru cukup besar.
“Jelas, tadi saya sampaikan kita sekarang berada di periode musim hujan. Tentunya hujannya lebih banyak daripada tidak hujannya,” ujar Riza.
Namun, ia mengingatkan bahwa dalam skala harian, kondisi cuaca masih bisa dipengaruhi berbagai faktor atmosfer jangka pendek, misalnya adanya siklon tropis yang sesaat dapat mengurangi suplai uap air di Kaltim, sebelum kemudian kembali basah.
“Kondisi atmosfer itu cepat berubah. Makanya informasi cuaca harus selalu di-update. Jangan hari ini kita dapat informasi, lalu dipakai beberapa hari bahkan beberapa bulan ke depan,” tegasnya.
Riza menyebut BMKG terus memantau kondisi La Nina dan dinamika atmosfer setiap hari, dan melakukan pemutakhiran informasi berkala.
Selain banjir di kawasan daratan, wilayah pesisir Kalimantan Timur juga memiliki potensi bencana yang perlu diwaspadai, terutama banjir rob yang dipicu kombinasi hujan lebat dan pasang maksimum.
“Di pesisir potensi bencananya ada karena lebih banyak faktor. Selain hujan dari atas, kondisi pasang surut juga mempengaruhi karena potensi banjir rob itu ada,” jelas Riza.
Menurutnya, banjir rob sangat dipengaruhi fase bulan, misalnya saat awal bulan Hijriah atau ketika bulan purnama.
“Pada saat misalkan di bulan purnama, ditambah kondisi cuaca hujan, air pasang naik, ditambah air dari atas, tentunya sangat berdampak di wilayah pesisir,” tuturnya.
Di kawasan pesisir, warga diminta lebih waspada dengan rutin memantau pola pasang surut air laut sekaligus memperhatikan informasi cuaca terbaru, terutama terkait potensi hujan lebat yang bisa memicu banjir rob dan genangan.
Mengenai potensi gangguan di jalur transportasi laut dan udara selama periode La Nina lemah, Riza menjelaskan bahwa La Nina lebih berpengaruh pada skala musim (bulan), sementara untuk operasional harian lebih banyak dipengaruhi fenomena atmosfer skala kecil.
Meski demikian, ia tetap mengingatkan agar kewaspadaan ditingkatkan, terutama pada Desember–Januari yang merupakan periode musim hujan sekaligus masa liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Untuk transportasi udara di bulan Desember–Januari tentunya tetap perlu waspada karena kita berada di daerah musim hujan. Pengalaman kita, di bulan-bulan itu sering terjadi kejadian bencana atau kecelakaan. Apalagi ini juga puncak Nataru, mobilitas masyarakat meningkat,” ujarnya.
Riza menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang terlalu fokus pada rencana liburan sehingga lupa memperbarui informasi cuaca.
“Kadang lagi asyik tahun baruan lupa nge-update informasi cuacanya. Karena yang penting sudah niat liburan, kan kita lupa. Padahal itu penting,” pungkasnya.

