SAMARINDA: Gerakan Pangan Murah (GPM) kembali digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai langkah intervensi harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.

Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim pada 10-11 November ini menjadi rangkaian penutup pelaksanaan GPM sepanjang tahun 2025.
Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda DPTPH Kaltim, Sri Wahyuni, mengatakan kegiatan pasar murah dilakukan satu kali setiap bulan selama 2025.
Menjelang periode konsumsi tinggi akhir tahun, harga komoditas di GPM disepakati berada di bawah harga pasar.
“Ini GPM terakhir di tahun 2025. Menyambut Nataru, harga disepakati di bawah harga pasar. Misalnya bawang merah di pasar Rp52 ribu, di sini Rp48 ribu. Bawang putih Rp35 ribu di pasar, di sini Rp30 ribu,” jelasnya.
GPM menghadirkan 52 stand, terdiri dari Bulog, BUMD Varia Niaga, Toko Siga, kelompok tani binaan Bank Indonesia, petani binaan Dinas Pangan, hingga pelaku UMKM sektor pangan dan hortikultura.
Selain bahan pokok, sejumlah komoditas lokal seperti umbi-umbian, jagung, hingga tanaman hias juga dipasarkan.
Wahyuni menyebut kegiatan ini melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah, meski beberapa instansi libur pada hari pelaksanaan.
“Kami kolaborasi dengan OPD terkait. Biasanya Disperindagkop juga terlibat. Ada juga dukungan dari Bank Indonesia untuk tenda, meja, dan kursi,” katanya.
Stand disediakan tanpa biaya bagi pelaku usaha maupun petani.
DPTPH menyiapkan konsumsi kegiatan, sementara sarana pendukung diakomodasi melalui kerja sama dengan BI.
GPM menjadi salah satu upaya stabilisasi harga terutama untuk komoditas sensitif yang biasa naik menjelang libur panjang.
Menurut DPTPH, gejolak harga biasanya terjadi pada bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan produk bumbu tertentu.
“Sebelum GPM, harga disurvei oleh enumerator kami di pasar. Kenaikan jelang hari besar itu yang coba kita intervensi,” ujar Wahyuni.
Harga pangan yang dijual produsen langsung juga menjadi faktor penekan harga, karena minim rantai distribusi.
Produk petani dijual langsung dari hasil panen sehingga tidak melalui tangan kedua atau ketiga.
Pasar murah dibuka mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WITA selama dua hari. Jika stok habis lebih cepat, kegiatan langsung ditutup.
Lokasi GPM berpindah-pindah sesuai permintaan kecamatan, mulai dari kantor dinas hingga kawasan publik seperti Museum Samarinda.
Di tingkat kabupaten dan kota, program serupa juga digelar secara mandiri, terutama menjelang hari besar keagamaan seperti Ramadhan, Idulfitri, dan Natal.
Selain pasar murah, DPTPH Kaltim juga menyiapkan sidak pasar dan pemantauan harga di retail modern.
Tim akan meninjau beberapa titik untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan tidak ada lonjakan harga yang tidak wajar.
“Kami akan lakukan pemantauan dan sidak ke beberapa pasar dan modern retail,” kata Wahyuni.

