SAMARINDA: Proses belajar mengajar di SMP Negeri 2 Samarinda sementara dialihkan secara daring menyusul kebakaran yang merusak delapan ruang kelas di sekolah tersebut.
Kebijakan ini ditempuh sambil menunggu perbaikan bangunan yang ditargetkan akan dimulai dalam waktu dekat.
Asisten II Sekretariat Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Marnabas Patiroy memastikan kegiatan belajar tetap berjalan meski terdampak musibah.
Ia menyebut sekolah masih dapat mengatur skema pembelajaran tanpa harus memindahkan siswa ke lokasi lain.
“Ini ada delapan lokal terdampak. Sempat kita tawarkan opsi menyewa tempat di luar, tapi pihak sekolah menyampaikan masih bisa diatur. Proses belajar tidak masalah,” ujarnya usai Rapat Koordinasi Tindaklanjut Kebakaran, Kamis, 2 April 2026.
Ia menjelaskan, kondisi saat ini terbantu dengan adanya jeda libur dan pelaksanaan ujian kelas sembilan (IX).
Setelah ujian selesai pada pertengahan Mei, aktivitas sekolah diperkirakan dapat kembali normal.
Sementara itu, proses perbaikan bangunan tengah disiapkan. Pemerintah membuka dua opsi pendanaan, baik melalui bantuan pusat maupun menggunakan anggaran mendesak daerah.
“Karena ini mendesak, kita dorong agar bisa menggunakan dana percepatan. Tidak bisa pakai BTT karena waktunya terbatas, sementara kerusakan cukup parah, termasuk mebel, dinding, dan atap,” katanya.
Penyusunan rencana anggaran biaya (RAB) ditargetkan rampung awal pekan depan.
Dengan perbaikan diharapkan sudah mulai berjalan pada minggu kedua April 2026 setelah proses administrasi dan pembersihan lokasi selesai.
“Target Senin atau Selasa RAB sudah masuk. Mudah-mudahan minggu kedua sudah on going,” tambahnya.
Dugaan sementara penyebab kebakaran berasal dari instalasi listrik di bagian atas plafon.
Meski demikian, penyelidikan masih menunggu hasil resmi dari pihak kepolisian.
“Secara kasat mata kemungkinan dari listrik di atas plafon. Ini juga jadi peringatan bagi masyarakat untuk rutin mengecek instalasi listrik, terutama yang sudah lama,” terangnya.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 2 Samarinda, Misradianto mengatakan sebanyak delapan kelas terdampak terdiri dari dua kelas VII, tiga kelas VIII, dan tiga kelas IX.
Seluruh area bangunan dua lantai tersebut untuk sementara disterilkan demi keamanan.
“Karena bangunannya dua tingkat, tidak mungkin bagian bawah dipakai sementara atas diperbaiki. Jadi semua kita tutup dulu,” jelasnya.
Untuk menjaga kelangsungan pembelajaran, pihak sekolah menerapkan sistem daring bergantian bagi siswa kelas VII dan VIII hingga pertengahan Mei.
Sementara siswa kelas IX akan segera menyelesaikan ujian dan tidak lagi mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Delapan kelas itu kita daringkan bergantian sampai Mei. Setelah kelas 9 selesai ujian, baru kelas 7 dan 8 bisa kembali belajar normal,” ujarnya.
Ia menambahkan, opsi pemindahan ke sekolah lain tidak dipilih karena keterbatasan ruang serta potensi kendala bagi tenaga pengajar.
Selain itu, pembersihan lokasi ditargetkan selesai dalam waktu singkat setelah garis polisi dicabut.
Pemerintah kota juga mengerahkan lintas organisasi perangkat daerah untuk mempercepat penanganan.
“Begitu proses dari kepolisian selesai, kita langsung bergerak cepat. Sabtu-Minggu kita targetkan pembersihan tuntas,” tutup Marnabas.

