BONTANG: Menikmati suasana sore di Kota Bontang punya banyak pilihan. Salah satu tempat favorit warga untuk bersantai adalah kawasan Bontang Kuala.
Di kampung atas laut tersebut, pengunjung bisa melakukan berbagai aktivitas. Mulai dari berjalan santai di jembatan kayu, menikmati pemandangan laut saat matahari mulai turun, hingga berburu aneka jajanan dari pelaku UMKM yang tersedia di sepanjang kawasan wisata itu.
Namun di antara berbagai pilihan kuliner yang ada, satu menu kerap menjadi buruan utama para pengunjung: gammi bawis.
Menu khas pesisir ini bisa ditemukan di banyak rumah makan atau Cafe.
Untuk rekomendasi yang cukup terkenal, ada Rumah Makan Warung si Bolang dan Cafe Jimbaran Bontang Kuala yang berada tepat di kawasan wisata tersebut.
Gammi bawis menjadi persembahan kuliner di mana sambal gami yang legendaris bertemu dengan ikan bawis, salah satu primadona perairan Bontang.
Satu suapan pertama langsung menggugah selera. Tekstur sambal yang sengaja dibuat kasar berpadu dengan terasi.
Perpaduan rasa pedas, asam segar dari tomat, serta gurihnya bawang merah menciptakan sensasi yang memanjakan lidah.
Yang membuat hidangan ini semakin unik adalah proses memasaknya. Ikan bawis yang masih mentah diletakkan langsung di atas cobek bersama ulekan sambal, lalu dimasak di atas kompor.
Panas dari cobek dan sambal membuat ikan matang secara perlahan, menghasilkan cita rasa segar yang berbeda dari olahan ikan pada umumnya.
Penggunaan cobek dari tanah liat pun bukan sekadar wadah penyajian, melainkan bagian penting dari proses memasak itu sendiri.
“Kalau tidak pakai cobek, tidak enak. Ada rasa yang berbeda dan harum,” ujar Andri salahsatu juru masak di Cafe Jimbaran Bontang Kuala.
Menurutnya, panas yang tersimpan dalam tanah liat mampu menjaga hidangan tetap hangat lebih lama sekaligus mengeluarkan aroma khas yang sulit ditiru oleh peralatan masak dari logam.
Gammi bawis bukan sekadar menu kuliner biasa. Hidangan ini lahir dari dapur-dapur sederhana masyarakat pesisir di Bontang Kuala, yang kemudian berkembang menjadi salah satu identitas kuliner Kota Bontang.
Dari kampung atas air tersebut, gammi bawis perlahan menjelma menjadi duta kuliner daerah yang membanggakan.
Berbagai prestasi telah diraih hidangan ini. Pada 2011, gammi bawis meraih Juara I Festival Benua Etam di Kalimantan Timur. Tiga tahun kemudian, kuliner ini kembali menjadi Juara I Festival Kuliner Tradisional se-Kalimantan Timur.
Prestasi tersebut berlanjut pada 2015 ketika gammi bawis dinobatkan sebagai juara terbaik se-Kalimantan dalam Festival Kuliner Tradisional HUT Taman Mini Indonesia Indah.
Pengakuan di tingkat nasional juga terus berdatangan. Gammi bawis pernah meraih Juara II dalam lomba Masakan Khas Daerah Pangan Nusa, serta masuk 10 besar Anugerah Pesona Indonesia (API) 2017 sebagai makanan tradisional terpopuler.
Hidangan khas pesisir ini bahkan pernah dicicipi langsung oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Joko Widodo.
Seiring meningkatnya popularitasnya, Pemerintah Kota Bontang kemudian mengambil langkah untuk melindungi kuliner khas tersebut.
Pada 2024 lalu, Pemkot Bontang berhasil mencatatkan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Indikasi Asal untuk sambal gammi bawis.
Sertifikat pengakuan tersebut diserahkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kalimantan Timur kepada Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Bontang.
Legalitas tersebut juga berfungsi melindungi kuliner ini dari klaim pihak lain serta mencegah pemanfaatan yang tidak sesuai dengan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Keistimewaan gammi bawis tidak hanya terletak pada sambalnya, tetapi juga pada bahan utamanya.
Ikan bawis yang digunakan dalam hidangan ini dikenal memiliki cita rasa khas. Spesies ikan tersebut disebut hanya dapat ditemukan di perairan Bontang dan sebagian wilayah Lombok dengan kualitas rasa yang relatif serupa.
Keunikan geografis ini memperkuat identitas gammi bawis sebagai kuliner khas daerah yang tidak mudah ditiru di tempat lain.
Untuk menjaga warisan kuliner tersebut, Pemkot Bontang juga membentuk komunitas asal yang melibatkan pelaku usaha kuliner gammi bawis serta tokoh adat Bontang Kuala.
Langkah ini diharapkan dapat memastikan bahwa tradisi kuliner tersebut tetap terjaga sekaligus terus berkembang sebagai bagian dari daya tarik wisata daerah.
Terletak di pesisir Kalimantan Timur, Kota Bontang memang tidak hanya dikenal dengan wisata baharinya. Sebagai kota yang sekitar 75 persen wilayahnya dikelilingi laut, Bontang juga menyimpan kekayaan kuliner laut yang lahir dari tradisi masyarakat pesisir.
Dan di antara berbagai hidangan laut tersebut, gammi bawis tetap menjadi salah satu ikon yang paling diburu terutama saat senja turun di Bontang Kuala.

