BONTANG: Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispopar-Ekraf) mematangkan rencana pembangunan rumah adat Toraja atau Tongkonan di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, sebagai destinasi wisata budaya.
Pembahasan rencana tersebut telah dilakukan melalui pertemuan di kantor Dispopar-Ekraf Bontang yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari Ikatan Keluarga Toraja Bontang, pihak kelurahan, hingga tim arsitek.
Kepala Bidang Pariwisata Dispopar-Ekraf Bontang, M. Ihsan, mengatakan Tongkonan tidak hanya difungsikan sebagai simbol budaya masyarakat Toraja di Bontang, tetapi juga sebagai ruang kegiatan budaya dan daya tarik wisata baru di Bontang Barat.
“Harapannya rumah adat Toraja ini bisa dimaksimalkan. Tidak hanya digunakan untuk kegiatan budaya dan ritual adat, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata budaya di Bontang,” ujarnya saat dihubungi, Rabu, 15 April 2026.
Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah kota menyiapkan anggaran sekitar Rp1 miliar yang mencakup tahap perencanaan, pengawasan, hingga pelaksanaan pembangunan.
“Anggaran yang disiapkan sekitar Rp1 miliar. Itu mencakup proses perencanaan, pengawasan sampai pelaksanaan pembangunan,” jelas Ihsan.
Ia menambahkan, rencana anggaran sebelumnya sempat diproyeksikan mencapai Rp1,5 miliar, namun setelah penyesuaian program disepakati menjadi Rp1 miliar.
Menurut Ihsan, keberadaan Tongkonan di kawasan Kanaan diharapkan dapat menarik minat masyarakat mengenal budaya Toraja yang memiliki komunitas cukup besar di Bontang.
Selain itu, pengembangan wisata budaya ini juga diperkirakan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dalam pembahasan tersebut, perhatian juga difokuskan pada kesesuaian desain bangunan dengan standar adat Toraja, mulai dari bentuk, ukuran, hingga struktur lantai agar nilai budaya tetap terjaga.
Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Toraja Bontang, Simon, menegaskan Tongkonan memiliki makna penting bagi masyarakat Toraja.
“Rumah Toraja itu ibarat ibu dan lumbung itu bapak. Jadi bagi kami Tongkonan ini sangat sakral,” ujarnya.
Ia berharap pembangunan rumah adat tersebut benar-benar memperhatikan aturan adat agar tidak mengulang kesalahan sebelumnya.
“Kami berharap kesalahan kemarin tidak terulang lagi. Kalau membangun Tongkonan, harus benar-benar mengikuti standar adat Toraja,” tegasnya.

