SAMARINDA: Pedagang plastik di Samarinda mulai menjerit akibat lonjakan harga bahan baku plastik yang dinilai sudah tidak masuk akal.
Kenaikan harga ini dipicu oleh memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang berdampak langsung pada kenaikan harga minyak bumi sebagai bahan baku utama biji plastik.
Salah satu pemilik usaha, “Mama Dimas” dari Toko Dimas menyebut kenaikan harga kali ini jauh lebih ekstrem dibandingkan sebelumnya.
“Ini bukan lagi naik harga, tapi perombakan harga total. Kita penjual yang sudah puluhan tahun saja kaget, belum pernah mengalami kenaikan sedrastis ini. Kalau dulu hari besar naik paling 10 persen, sekarang kenaikannya rata-rata sudah 70 persen,” ungkapnya, Minggu, 12 April 2026.
Berdasarkan pantauan di lapangan, jenis plastik yang mengalami kenaikan paling signifikan adalah kantong kresek dan plastik PE (Polyethylene).
“Sebagai contoh, plastik ukuran seperempat atau 10 x 20 cm yang biasanya dijual di kisaran Rp5 ribu hingga Rp7 ribu, kini melonjak menjadi Rp10 ribu. Sementara itu, plastik es batu yang semula Rp13.000 kini menyentuh harga Rp22.000 per pak,” jelasnya.
Selain plastik kemasan, produk turunannya seperti thinwall (wadah plastik), botol plastik, hingga styrofoam juga ikut mengalami kenaikan harga.
“Thinwall itu biasanya sekitar Rp25 ribu, sekarang naik jadi Rp30 ribu sampai Rp35 ribu. Botol-botol naik, styrofoam, bahkan paper bowl yang dari bahan kertas pun ikut naik,” tambahnya.
Mama Dimas juga mengungkapkan bahwa para distributor besar di kawasan Pasar Segiri memprediksi harga masih akan terus meningkat, bahkan berpotensi mencapai kenaikan hingga 100 persen dalam waktu dekat.
“Setiap kita belanja per karung itu naiknya bisa sampai Rp150.000. Dan ini terjadi hampir setiap hari, tidak ada tanda-tanda akan turun,” tambahnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Omzet pedagang menurun drastis karena konsumen mulai membatasi pembelian, ditambah kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.
Padahal, plastik masih menjadi kebutuhan penting yang belum memiliki alternatif pengganti yang sepadan, terutama bagi pelaku usaha mikro.
Menanggapi situasi tersebut, Mama Dimas berharap pemerintah, baik dari tingkat kota maupun provinsi, dapat segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan harga di pasar.
“Harapannya pemerintah jangan cuma dengar laporan stok saja, tapi turun langsung ke pasar-pasar. Lihat langsung kondisi masyarakat di bawah seperti apa supaya tahu harga yang sebenarnya gila-gilaan ini,” tutupnya.

