SAMARINDA: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda menyebut hingga saat ini belum menerima keluhan dari warga Jalan Wanyi, Kelurahan Sempaja Utara, terkait operasional insinerator yang berada di dekat permukiman.
Meski demikian, potensi munculnya asap diakui masih terjadi, terutama pada tahap awal pembakaran serta akibat jenis sampah tertentu.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Muhammad Taufiq Fajar mengatakan belum ada laporan resmi yang masuk, baik melalui kanal pengaduan maupun dari pihak kecamatan.
“Sejauh ini belum ada komplain dari masyarakat terkait gangguan asap dari insinerator,” ujarnya, Jumat, 10 April 2026.
Ia menjelaskan, asap umumnya muncul saat awal proses pembakaran, ketika tungku dibuka dan api mulai dinyalakan.
Setelah suhu mesin stabil dan mencapai tingkat optimal, produksi asap akan berkurang secara signifikan.
“Asap biasanya hanya di awal. Kalau suhu sudah tinggi dan proses berjalan normal, asapnya minim,” jelasnya.
Menurut Taufiq, salah satu faktor utama munculnya asap adalah sampah basah yang belum terpilah dengan baik.
Selain itu, material seperti karet dalam jumlah banyak juga dapat menghasilkan asap hitam saat dibakar.
“Yang paling rawan itu sampah basah. Kalau masuk ke mesin, langsung menghasilkan asap. Begitu juga karet, bisa menimbulkan asap hitam,” katanya.
Kondisi ini, lanjutnya, tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang masih mencampur berbagai jenis sampah dalam satu kantong, sehingga menyulitkan proses pemilahan di lapangan.
“Dari TPS, sampah datang masih tercampur. Kita tidak tahu di dalamnya ada apa saja, bahkan bisa saja ada limbah B3,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, DLH berencana memperkuat sistem pemilahan, baik di tingkat masyarakat maupun melalui pengadaan mesin pemilah otomatis di masa mendatang.
Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan skema pengelolaan sampah organik agar tidak seluruhnya dibakar.
Beberapa opsi yang dipertimbangkan antara lain penggunaan komposter, biopori, hingga metode pengolahan lainnya.
“Ke depan, sampah organik akan kita upayakan tidak dibakar, tapi diolah dengan metode lain,” jelasnya.
Terkait dampak lingkungan, Taufiq memastikan bahwa selama proses berjalan pada suhu tinggi, emisi asap dapat ditekan seminimal mungkin.
Namun, pihaknya tetap berupaya meningkatkan standar operasional guna menjaga keamanan lingkungan dan kenyamanan warga sekitar.
DLH juga membuka ruang evaluasi dan masukan dari masyarakat sebagai bagian dari upaya penyempurnaan sistem pengelolaan sampah di Kota Samarinda.

