SAMARINDA: Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Timur (Kaltim), Arih Frananta Filipus Sembiring, mengklarifikasi isu dugaan pembagian amplop kepada perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) dalam kegiatan coffee morning di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov).
Ia mengakui adanya kekeliruan dalam proses internal yang memunculkan persepsi di masyarakat terkait pembagian uang kepada peserta kegiatan tersebut.
“Saya mohon maaf, itu kesalahan saya. Itu sebenarnya baru konsep usulan, belum menjadi keputusan atau realisasi,” ujarnya diwawancarai media usai coffee morning bersama ormas di Gedung Olah Bebaya, Kantor Gubernur Kaltim, Senin, 13 April 2026.
Isu pembagian amplop senilai Rp105 ribu per orang untuk 400 peserta, atau total Rp42 juta, mencuat setelah tercantum dalam surat undangan yang beredar luas di media sosial.
Arih menjelaskan, gagasan pemberian uang transport kepada peserta muncul sebagai bentuk apresiasi bagi ormas yang hadir, terutama yang datang dari jarak jauh dan harus meninggalkan aktivitasnya.
“Saya ingin silaturahmi ini tidak merugikan masyarakat yang datang dari jauh. Minimal ada sesuatu yang bisa kita berikan,” jelasnya.
Namun, usulan tersebut belum mendapat persetujuan pimpinan dan belum memasuki tahap final.
Meski begitu, informasi tersebut terlanjur beredar ke publik dan memicu polemik.
Arih menyatakan bertanggung jawab penuh atas beredarnya informasi tersebut.
Ia juga telah menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur serta Sekretaris Daerah.
“Saya sudah sampaikan secara tertulis kepada Pak Gubernur. Saya minta maaf dan saya bertanggung jawab,” tegasnya.
Ia menegaskan tidak ingin memberikan janji yang belum pasti kepada masyarakat.
Menurut Arih, secara regulasi pemberian uang transport dalam kegiatan tertentu memiliki dasar hukum.
Namun, dalam konteks saat ini, rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena keterbatasan anggaran di tengah kebijakan efisiensi.
Ia juga mengakui sebagai pejabat baru di Kesbangpol, dirinya masih dalam proses memahami mekanisme birokrasi secara menyeluruh.
“Saya orang baru, belum ada sebulan. Jadi mungkin terlalu terburu-buru dalam mengusulkan tanpa mempelajari secara mendalam,” ujarnya.
Meski demikian, ia berharap masyarakat dapat memahami situasi tersebut dan menerima permintaan maaf yang disampaikan.
“Mudah-mudahan masyarakat bisa menerima. Ini masih bulan Syawal, saya mohon maaf sebesar-besarnya,” katanya.

