SAMARINDA: Kehadiran Car Free Night (CFN) di Jalan Kusuma Bangsa, Kota Samarinda membawa angin segar bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Meski baru hari pertama, agenda ini dinilai lebih efektif menarik daya beli masyarakat dibandingkan kegiatan serupa di pagi hari.
Intan Meista, salah satu pemilik usaha di bidang food and beverage (F&B), mengaku terkejut dengan antusiasme pengunjung yang datang. Ia yang biasanya berjualan di “Car Free Day” (CFD) pagi, mencatat adanya pergeseran perilaku konsumen yang cukup signifikan pada malam hari.
“Malam ini ramai banget. Jujur saya kaget karena tadi cuma bawa stok sedikit karena kebetulan daya beli saat pagi hari sedang turun, ternyata malamnya justru membeludak sampai habis duluan,” ungkap Intan kepada media, Sabtu malam, 18 April 2026.
Intan yang mengelola dua jenis usaha sekaligus, yakni bakery dan makanan berat merasakan dampak langsung terhadap pendapatan hariannya. Ia menaksir terjadi kenaikan omzet yang cukup sigifikan untuk ukuran hari perdana.
“Dibandingkan biasanya, kenaikan omzet hari ini ada di angka sekitar 30 persen. Ini lumayan banget untuk awal pembukaan,” tambahnya.
Selain antusiasme pembeli, faktor biaya operasional juga menjadi sorotan. Intan memaparkan bahwa tarif sewa lapak pada malam hari justru lebih terjangkau dibandingkan pagi hari. Untuk sesi malam, ia dikenakan biaya Rp70 ribu sudah termasuk listrik, sementara untuk sesi pagi mencapai Rp100 ribu per tenda.
Di tengah tren kenaikan harga bahan baku pasca-Lebaran, Intan mengaku harus memutar otak agar tetap bisa berjualan tanpa kehilangan pelanggan. Alih-alih menaikkan harga yang berisiko menurunkan minat beli, ia memilih melakukan penyesuaian pada ukuran produk.
“Bahan baku naik jelas terasa sekali setelah Lebaran. Strategi saya, harga tidak dinaikkan dan kualitas tetap dijaga, tapi size atau ukuran cake-nya saya kecilkan sedikit. Kalau harga dinaikkan, orang mungkin tidak jadi beli,” jelasnya yang telah merintis usaha sejak 2017 ini.
Menurut pandangannya, karakteristik warga Samarinda cenderung lebih gemar berburu kuliner pada malam hari adalah dikarenakan faktor waktu luang setelah bekerja. Ia menilai waktu pagi lebih sering digunakan masyarakat untuk bekerja.
“Harapannya pemerintah atau penyelenggara lebih sering mengadakan event malam seperti ini. Orang Samarinda itu cepat bosan, dan kalau malam semua bisa datang karena sudah tidak kerja, jadi antusiasnya jauh lebih tinggi,” tutupnya.
Keberhasilan di hari pertama ini diharapkan menjadi evaluasi bagi Pemerintah Kota Samarinda untuk terus konsisten menyediakan ruang niaga bagi UMKM, guna menjaga stabilitas ekonomi kerakyatan di tingkat lokal.

