SAMARINDA – Di tengah derasnya arus digital dan gaya hidup serba cepat, satu istilah perlahan akrab di telinga Generasi Z: keuangan syariah.
Bukan lagi sekadar wacana di ruang kelas atau kajian keagamaan, tetapi mulai hadir dalam pilihan sehari-hari, dari membuka rekening hingga mengelola pengeluaran.
Namun, di balik pergeseran itu, sebuah pertanyaan muncul: apakah ini benar-benar lahir dari kesadaran, atau sekadar mengikuti tren?
Bagi Aminah, mahasiswa Manajemen Universitas Terbuka, jawabannya sederhana dan jujur.
“Awalnya ikut-ikutan teman saja,” katanya.
Ia mulai mengenal keuangan syariah dari media sosial. Konten tentang riba, gaya hidup halal, hingga ajakan “hijrah finansial” muncul silih berganti di berandanya.
Ditambah lagi, lingkungan pertemanan yang mulai beralih membuatnya terdorong untuk mencoba.
Kini, hampir seluruh aktivitas keuangannya dilakukan melalui Bank Syariah Indonesia (BSI), mulai dari transfer, menabung, hingga kebutuhan sehari-hari.
Namun, keputusan yang awalnya lahir dari tren itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih personal.
“Saya jadi lebih mikir sebelum pakai uang. Lebih hati-hati, dan ada rasa lebih tenang juga,” ujarnya.
Bagi Aminah, perjalanan ini belum selesai. Ia mengaku masih berada di tahap belajar, mencoba memahami lebih dalam apa yang dulu hanya ia ikuti.
“Awalnya saya kira cuma ikut-ikutan, tapi sekarang jadi cara saya lebih sadar dalam mengelola uang,” tambahnya.
Fenomena yang dialami Aminah mencerminkan realitas yang lebih luas. Generasi Z yang mencapai 27,94 persen dari total populasi Indonesia hidup di tengah tekanan sosial seperti fear of missing out (FOMO), you only live once (YOLO), hingga fear of other people’s opinion (FOPO).
Ketiga fenomena ini mendorong pola hidup konsumtif sekaligus memengaruhi cara mereka mengambil keputusan, termasuk dalam hal keuangan.
Di satu sisi, tren menjadi pintu masuk yang kuat. Di sisi lain, ada potensi kesadaran yang perlahan tumbuh.
Adryan Risady, mahasiswa lulusan S2 Ekonomi Syariah UINSI Samarinda, melihat fenomena ini sebagai proses yang tidak bisa dilepaskan dari karakter Gen Z.
“Sudah mulai muncul kesadaran untuk beralih ke keuangan syariah,” ujarnya.
Namun, ia juga menegaskan bahwa tren tetap menjadi faktor dominan di tahap awal.
“Fenomena ini memang banyak didorong oleh tren. Tapi Gen Z punya literasi yang cukup tinggi. Mereka melihat tren, lalu membandingkan secara jelas antara keuangan syariah dan konvensional,” jelasnya.
Bagi Gen Z, media sosial bukan sekadar hiburan, melainkan ruang pembentukan persepsi.
Adryan menilai, pengaruhnya dalam mendorong hijrah finansial sangat besar.
“Gen Z sekarang tidak bisa lepas dari dunia digital. Jadi apa yang mereka lihat di sana sangat memengaruhi pilihan mereka,” katanya.
Namun, perbedaan antara tren dan kesadaran tetap terlihat jelas.
“Yang ikut tren biasanya tidak bisa menjelaskan alasan mendasar kenapa memilih keuangan syariah. Sedangkan yang sudah sadar, mereka memahami alasan itu,” tegasnya.
Di balik perubahan perilaku individu, ekosistem ekonomi syariah di Kalimantan Timur juga terus berkembang.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Kaltim mencatat telah memfasilitasi 267 pelaku usaha syariah sejak 2024. Selain itu, tujuh rumah potong unggas, 26 juru sembelih halal, dan 33 nadzhir juga telah didukung dalam penguatan sistem halal di daerah.
Program seperti Halal Point ID, pelatihan UMKM, hingga edukasi keuangan syariah melalui “Bima Etam” menjadi bagian dari strategi memperluas akses dan pemahaman masyarakat.
Meski pertumbuhan terlihat signifikan, literasi masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Data menunjukkan, indeks literasi keuangan syariah nasional pada 2025 baru mencapai 43,42 persen, sementara tingkat inklusinya berada di angka 13,41 persen. Artinya, banyak yang menggunakan, tetapi belum sepenuhnya memahami.
Menurut Adryan, kondisi ini harus segera direspons.
“Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan literasi keuangan syariah. Jangan berhenti di tren, tapi harus sampai pada pemahaman,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran lembaga seperi BI, OJK hingga kampus lebih berperan aktif dalam sosialisasi keuangan digital.
Di antara tekanan FOMO dan derasnya arus digital, Generasi Z Samarinda sedang belajar melihat uang bukan sekadar alat transaksi tetapi bagian dari nilai hidup.
Dan mungkin, dari langkah kecil yang berawal dari ikut-ikutan itulah, kesadaran itu benar-benar tumbuh.

