SAMARINDA: Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur Ririn Sari Dewi mengatakan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), terus mematangkan persiapan penilaian UNESCO terhadap Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
Ini digadang-gadang, menjadi geopark terbesar di Indonesia dengan luas kawasan mencapai sekitar 1,8 juta hektare.
Untuk pengembangan program ekonomi kreatif dan pariwisata, Dispar Kaltim menjadi koordinator bersama Dinas Pariwisata Berau dan Kutai Timur.
Dikatakan, berbagai langkah percepatan telah dilakukan, mulai dari penguatan branding geopark, penyediaan data dukung. Hingga pelibatan lintas sektor, untuk menyambut tim verifikasi UNESCO.
“Branding geopark terus kita kuatkan, termasuk melatih aktor-aktor di lapangan agar siap memberikan penjelasan kepada tim verifikasi UNESCO,” ujarnya kepada media Rabu, 6 Mei 2026.
Pemprov Kaltim juga menyiapkan, surat edaran dari gubernur. Serta kepala daerah di Kabupaten Kutai Timur dan Berau, terkait dukungan terhadap sejumlah titik kawasan geopark.
Logo Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, juga mulai dipasang di sejumlah lokasi strategis seperti bandara, terminal, hingga gerbang masuk kawasan.
Selain itu, dukungan promosi melalui media sosial seluruh perangkat daerah juga mulai digencarkan sebagai bagian dari penguatan visibilitas geopark.
Ririn menjelaskan, sejumlah dokumen pendukung non-APBD telah disiapkan. Termasuk rencana induk geopark, yang telah direview Bappenas pada Desember 2025 lalu.
Selain itu, terdapat dokumen pendukung lain seperti Rencana Induk Pariwisata Daerah (Riparda) Provinsi Kaltim yang telah disahkan sejak 2022.
Beberapa dokumen lain juga meliputi, Kajian Bentang Alam Karst (KBAK) Kutai Timur dan Berau, hingga revisi RTRW Provinsi Kalimantan Timur.
“Beberapa catatan dari review Bappenas sudah diperbaiki dan di-update pada draft terakhir per 30 April 2026,” katanya.
Dalam draft terbaru, terdapat usulan 26 geosite, tujuh situs keanekaragaman hayati dan dua situs budaya yang akan diajukan dalam penilaian UNESCO.
Ririn mengakui, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah. Terutama terkait outstanding universal value , atau nilai universal luar biasa yang membutuhkan pengakuan dan dukungan internasional. Khususnya di kawasan Krucut Kars Perabu, Danau Dua Rasa Labuan Cermin dan Menara Kars Tondoyan.
Menurutnya, pengembangan geopark ini melibatkan banyak pihak lintas sektor. Mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota, akademisi, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Balai Pelestarian Kebudayaan, DLH, BPBD, BKSDA, hingga perusahaan BUMN dan swasta.
“Ini kerja bersama. Semua SKPD terlibat sesuai bidang masing-masing, mulai dari konservasi, riset, pengembangan budaya, promosi sampai mitigasi bencana,” jelasnya.
Ia mencontohkan, pengembangan promosi dan kemitraan melibatkan Kominfo dan biro pemerintahan, sementara bidang riset turut menggandeng Brida dan lembaga internasional GIZ.
Ririn berharap, proses percepatan ini dapat berjalan lancar sehingga Geopark Sangkulirang-Mangkalihat segera mendapat pengakuan UNESCO.
“Ini menjadi kebanggaan Kalimantan Timur. Kalau diakui UNESCO, ini menjadi entry point pengembangan ekowisata sekaligus penguatan kawasan konservasi kita,” tegasnya.
Ditambahkan, status geopark nantinya juga akan memperkuat pengelolaan kawasan konservasi . Agar tidak dimasuki secara sembarangan dan tetap, menjaga ekosistem yang ada.
“Harus dijaga ekosistemnya. Jadi memang pengelolaan kawasan nanti lebih tertata sebagai kawasan wisata khusus berbasis konservasi,” pungkasnya

