JAKARTA: Meski menurun tipis per Mei 2026 yaitu 0,70 persen defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) masih berada di angka Rp 180,4 triliun dari produk Domestik Bruto (PDB). Defisit terjadi, karena belanja negara lebih tinggi dari pendapatan negara.
Hingga akhir Mei 2026, belanja pemerintah naik 34,4 persen ke Rp1.365,4 triliun secara tahunan (year-on-year/yoy).
Demikian pengakuan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Konferensi Pers APBN KiTa yang digelar Jumat, 5 Juni 2026, di Kementerian Keuangan.
Artinya kata Purbaya, posisi defisit APBN saat ini masih sangat terjaga, terukur, dan sesuai desain APBN 2026.
Pembiayaan anggaran juga dikelola secara prudent, efisien, dan fleksibel. Mengikuti dinamika pasar keuangan.
Menjawab pertanyaan, tentang berbagai prediksi perkembangan ekonomi Indonesia saat ini, dijelaskan, jika dihitung seperti diluar. Caranya sama dengan perhitungan kira-kira 1,8 persen PDB (defisit APBN) 2026.
“Jadi kalau dilihat dari situ, APBN kita sangat aman,” jawab Purbaya.
Dari realisasi APBN ini, pendapatan negara hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp1.185 triliun dan belanja negara menyentuh angka Rp1.365,4 triliun hingga akhir Mei 2026. Adapun keseimbangan primer, tercatat surplus sebesar Rp58,6 triliun.
Surplus keseimbangan primer ini lanjutnya, menunjukkan anggaran pemerintah bergerak berkesinambungan.
Bicara tentang pendapatan negara dikatakan, dari total Rp1.185 triliun. Untuk jumlah ini, Rp958,2 triliun berasal dari penerimaan pajak.
Jumlah ini bila dirinci berasal dari pajak Rp834,4 triliun dan dari kepabeanan dan cukai sebesar Rp123,8 triliun. Sedangkan Penerimaan Negara Bukan pajak (PNPB) tercatat Rp226,4 triliun triliun, serta penerimaan hibah Rp0,4triliun.
Berlanjut ke belanja negara Rp1.365,4 triliun. Jumlah ini bila didetailkan paling besar berasal dari belanja pemerintah pusat yaitu Rp1.059,3 triliun. Lebih rinci lagi belanja kementerian/lembaga sebesar Rp517,7 triliun. Dan belanja non kementerian/lembaga sebesar Rp541,6 triliun.
Sedangkan transfer kedaerah tercatat sebesar Rp306,1 triliun, dengan keseimbangan primer hingga Mei 2026, surplus Rp58,6 triliun.
Dengan begitu lanjutnya, meski perekonomian dunia masih dalam situasi fluktuatif dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Fondasi ekonomi Indonesia masih solid, dengan realisasi APBN yang menunjukkan tren sangat positif.

