
BONTANG: Lonjakan jumlah anak yang membutuhkan layanan terapi di Autis Center Bontang mulai menimbulkan antrean panjang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian DPRD Kota Bontang yang menilai kapasitas tenaga terapis saat ini sudah tidak lagi sebanding dengan kebutuhan pelayanan.
Ketua Komisi A DPRD Kota Bontang Heri Keswanto mengatakan, meningkatnya jumlah pengguna layanan membuat sejumlah orang tua harus menunggu cukup lama sebelum anak mereka mendapatkan jadwal terapi.
Menurutnya, kebutuhan terapi yang terus bertambah tidak diikuti dengan penambahan tenaga terapis yang memadai.
“Sekarang yang datang ke Autis Center semakin banyak. Informasinya, ada layanan terapi yang tidak lagi dijamin setelah anak berusia di atas tujuh tahun, sehingga mereka mencari alternatif layanan di sini,” ujarnya, Jumat, 5 Juni 2026.
Antrean layanan saat ini sudah berlangsung cukup panjang. Bahkan, terdapat orang tua yang harus menunggu hingga beberapa bulan sebelum anak mereka bisa mendapatkan pendampingan terapi.
Kondisi tersebut dinilai perlu segera mendapat perhatian karena keterlambatan terapi berpotensi memengaruhi proses perkembangan dan pendampingan anak berkebutuhan khusus.
“Ini menjadi perhatian karena ada kekosongan pelayanan yang cukup lama. Orang tua tentu berharap anak mereka bisa segera mendapatkan pendampingan terapi,” katanya.
Ia menjelaskan, Autis Center Bontang tetap menerima anak yang membutuhkan terapi tanpa membatasi usia tertentu. Namun, kemampuan pelayanan sangat bergantung pada jumlah tenaga terapis yang tersedia.
Dalam pelaksanaannya, satu terapis umumnya mendampingi satu anak dalam satu sesi terapi agar penanganan dapat dilakukan secara lebih optimal sesuai kebutuhan masing-masing anak.
“Pekerjaan terapis cukup berat karena membutuhkan fokus dan pendampingan secara intensif. Biasanya satu terapis menangani satu anak dengan jadwal yang sudah diatur per sesi,” jelasnya.
Karena itu, Komisi A DPRD Bontang mendorong pemerintah daerah untuk menambah jumlah tenaga terapis guna mengurangi antrean sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Kalau jumlah terapis bisa ditambah, tentu pelayanan akan lebih maksimal dan antrean yang saat ini cukup panjang bisa dikurangi,” pungkasnya. (Adv)

