SAMARINDA: Kehadiran mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, dalam acara Bedapatan Wartawan Legend 4 di Hotel Claro Pandurata, eks Hotel Atlet Sempaja, Samarinda, Sabtu malam, 13 Juni 2026, menjadi salah satu momen yang paling menyita perhatian para tamu undangan.
Rita tiba sekitar pukul 19.40 Wita, mengenakan dress hitam yang dipadukan dengan kerudung hitam.
Setibanya di lokasi, ia langsung disambut hangat para wartawan senior, tokoh masyarakat, dan jajaran panitia yang telah menantikan kehadirannya.
Kehadiran Rita dalam acara tersebut, juga menjadi perhatian. Karena baru sehari sebelumnya, ia kembali menginjakkan kaki di Kutai Kartanegara.
Kedatangannya di Tenggarong disambut antusias, masyarakat yang menyapa dan mengabadikan momen bersama mantan bupati dua periode tersebut.
Rita diketahui, telah menyelesaikan masa hukumannya dalam perkara suap dan gratifikasi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan bebas pada Agustus 2025.
Meski telah menghirup udara bebas, namanya masih kerap menjadi sorotan publik seiring pengembangan perkara yang masih dilakukan KPK.
Suasana pun berubah akrab. Rita terlihat ramah menyapa satu per satu tamu yang menghampirinya. Sesekali ia berhenti untuk berbincang dan melayani permintaan foto bersama.
Saat didaulat ke depan panggung oleh pembawa acara, Rita tampak santai dan beberapa kali melontarkan candaan yang mengundang tawa para hadirin.
Ketika ditanya makanan pertama yang dicari setelah kembali ke Tenggarong, Rita memberikan jawaban yang membuat ruangan kembali riuh.
“Bakso dan mihun. Saya kira dulu itu makanan Kutai, ternyata bakso dan mihun,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun suasana menjadi lebih serius ketika pembicaraan mengarah pada kenangannya bersama para wartawan selama menjabat Bupati Kutai Kartanegara.
Menurut wanita Kelahiran Tenggarong 7 November 1973, wartawan memiliki peran penting. Dalam menyampaikan informasi, kepada masyarakat.
Selama memimpin Kutai Kartanegara, ia mengaku memiliki banyak pengalaman dan kenangan bersama insan pers.
“Kalau ditanya kenangan dengan wartawan, banyak sekali. Saya ini kan sumber berita. Wartawan itu bagi saya orang yang spesial untuk menyampaikan hal yang ingin kita sampaikan kepada masyarakat,” katanya.
Di hadapan para wartawan senior yang hadir, Rita juga menyampaikan, harapannya agar dunia jurnalistik tetap mengedepankan keberimbangan dalam pemberitaan.
Menurutnya, media memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik sehingga setiap informasi yang disampaikan perlu didasarkan pada prinsip keadilan dan konfirmasi kepada seluruh pihak yang berkaitan.
Ia mengaku pernah merasakan situasi ketika sebuah pemberitaan muncul tanpa adanya konfirmasi langsung kepada dirinya.
“Harusnya dua belah pihak. Jangan sampai ada yang tidak dikonfirmasi. Itu penting supaya masyarakat mendapatkan informasi yang utuh,” ujarnya.
Meski demikian, Rita menegaskan dirinya tetap menghormati profesi wartawan dan menganggap insan pers sebagai bagian penting dalam kehidupan demokrasi.
Saat ditanya mengenai aktivitasnya saat ini, Rita mengaku ingin menikmati waktunya dengan lebih dekat bersama masyarakat. Ia bahkan bercanda bahwa dirinya kini lebih sering hadir di tengah warga dan membantu mempromosikan usaha kecil yang ditemuinya.
“Ada yang kasih saya donat waktu lewat. Katanya setelah itu donatnya langsung laku. Mudah-mudahan saya bisa membantu masyarakat seperti itu, membantu mereka menjadi viral,” katanya yang langsung disambut tepuk tangan hadirin.
Momen paling menarik terjadi ketika pembawa acara meminta Rita berbicara menggunakan bahasa Kutai. Sempat mengaku mulai jarang menggunakan bahasa daerah karena lebih sering berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, Rita akhirnya memenuhi permintaan tersebut.
Menurut Rita, wartawan memiliki peran penting dalam menjaga jalannya pemerintahan dan menyampaikan kebenaran kepada masyarakat.
“Wartawan itu segalanya. Kalau wartawan baik, mudah-mudahan suasana juga semakin baik, pemerintahan semakin nyaman dan benar. Yang penting itu kebenaran,” ucapnya.
Ia juga memberikan penghormatan kepada para wartawan senior yang telah melewati berbagai dinamika dan tantangan profesi selama bertahun-tahun.
“Para wartawan legend ini harus kita hargai. Perjuangan mereka tidak mudah dan menjadi bagian penting dari sejarah daerah kita,” katanya.
Acara Bedapatan Wartawan Legend malam itu pun berlangsung hangat dan penuh nostalgia. Kehadiran Rita Widyasari menambah warna tersendiri dalam pertemuan yang mempertemukan insan pers lintas generasi tersebut.
Turut hadir juga Wali Kota Samarinda Andi Harun, Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri, Kadiskominfo Kaltim Muhammad Faisal dan tamu undangan lainnya.

