SAMARINDA: Warisan perjuangan almarhum Muhammad Sukri dalam membangun Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalimantan Timur (Kaltim), diminta untuk terus dilanjutkan oleh kepengurusan baru.
Ketua Harian JMSI Pusat Ari Rahman menegaskan, pengurus saat ini memiliki tugas menjaga semangat, nilai, dan fondasi organisasi yang telah dirintis Sukri, Sekaligus memperkuat peran JMSI, sebagai wadah pengembangan media siber di Kalimantan Timur.
Ari menyampaikan, jasa dan kontribusi almarhum Mohammad Sukri. Tidak boleh dilupakan dalam perjalanan organisasi.
Menurutnya, pengurus yang ada saat ini merupakan penerus yang bertugas melanjutkan perjuangan, bukan merintis dari awal.
“Jangan lupa dengan sejarah munculnya JMSI Kaltim. Ada nama almarhum Mohammad Sukri yang tidak boleh ditinggalkan. Yang sekarang ini hanya meneruskan, bukan merintis,” ujarnya saat berdiskusi bersama jajaran JMSI Kaltim di Seraung Coffee Samarinda, Senin, 8 Juni 2026.
Ari menilai Kalimantan Timur memiliki posisi strategis dalam pengembangan media siber nasional. Selain menjadi salah satu daerah dengan organisasi JMSI yang cukup besar, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga membuat Kaltim memiliki peran penting sebagai pusat pertumbuhan media di kawasan Kalimantan dan Indonesia Timur.
Menurutnya, Kaltim dapat menjadi poros yang menghubungkan jaringan media di Pulau Kalimantan dengan wilayah lain seperti Sulawesi hingga negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
“Kaltim ini cukup besar. Kita jadikan sebagai poros media untuk wilayah Kalimantan. Bahkan bisa menjadi penghubung ke Sulawesi, Brunei Darussalam, hingga Filipina,” katanya.
Ia menambahkan, eksistensi JMSI Kaltim ke depan perlu diperkuat hingga ke tingkat akar rumput. Salah satu fokus yang harus menjadi perhatian adalah regenerasi sumber daya manusia di bidang jurnalistik dan media siber.
Menurut Ari, organisasi tidak cukup hanya hadir secara struktural, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat nyata bagi anggota dan masyarakat.
“Harapan kami, JMSI lebih aktif menggerakkan apa yang menjadi tujuan organisasi perusahaan pers. Kehadirannya harus terasa dan nyata, bukan hanya sebatas organisasi di atas kertas,” ujarnya.
Ari juga menyoroti pentingnya melanjutkan program-program yang telah dirintis pada masa kepemimpinan Mohammad Sukri, termasuk keberadaan Sukri Institute yang selama ini menjadi wadah pembinaan dan pengembangan kapasitas insan media.
Menurutnya, program tersebut dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dunia media, tata cara penyampaian informasi yang benar, serta pentingnya prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.
“Informasi yang disampaikan kepada publik harus memenuhi prinsip jurnalistik dan tidak boleh satu arah. Harus ada narasumber, ada konfirmasi, dan ada tujuan yang jelas,” katanya.
Lebih lanjut, Ari menegaskan tujuan utama JMSI sejak didirikan adalah membantu perusahaan media lokal agar dapat tumbuh dan berkembang, baik dari sisi sumber daya manusia, kualitas pemberitaan, maupun tata kelola perusahaan media.
Karena itu, ia mengingatkan agar JMSI tetap menjaga independensi dan tidak menjadi alat kepentingan pihak tertentu.
“Jangan sampai JMSI menjadi alat pukul dan alat semir. JMSI harus menjadi mitra pemerintah, mitra regulator, dan mitra pembangunan daerah,” tegasnya
Selain itu, Ari berharap kepengurusan baru JMSI Kaltim dapat membangun kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, sekolah, hingga sektor swasta.
Menurutnya, sinergi tersebut penting untuk memperkuat posisi media lokal sekaligus meningkatkan kualitas ekosistem pers di Kalimantan Timur.
Terkait proses pergantian kepemimpinan pasca wafatnya Muhammad Sukri, Ari menyebut, secara administrasi organisasi kini tinggal menunggu penerbitan surat keputusan (SK) definitif bagi kepengurusan baru agar roda organisasi dapat berjalan secara optimal.
“Yang penting sekarang SK definitifnya segera diterbitkan supaya organisasi tetap berjalan dan program-program JMSI bisa terus dilaksanakan,” pungkasnya.

