SAMARINDA: Usai resmi menerima pengelolaan kawasan Mal Lembuswana dari PT Cipta Sumina Indah Satresna (CSIS), PT Kaltim Melati Bhakti Satya (KTMBS) mulai menyusun langkah strategis kedepan.

Dalam masa penugasan selama satu tahun, yang dapat diperpanjang hingga investor baru diperoleh. Perusahaan daerah itu memprioritaskan, mempertahankan tenant eksisting sekaligus menarik investor dan penyewa baru.
Direktur Utama KTMBS Aji Mohammad Abidharta W. Hakim mengatakan, meski serah terima pengelolaan baru dilakukan. Pihaknya telah melakukan survei dan komunikasi dengan para tenant beberapa bulan sebelumnya. Untuk memetakan kondisi mal, yang telah beroperasi sekitar 30 tahun tersebut.
“Kami sudah melihat apa saja kekurangan dan kelebihan mal ini. Sekarang fokus kami menjaring aspirasi tenant eksisting dan melihat apakah mereka akan melanjutkan kerja sama dengan kami atau tidak,” ujarnya usai serah terima di Mal Lembuswana, Jumat, 7 Agustus 2028.
Menurutnya, KTMBS telah menyusun program pengelolaan, termasuk menawarkan skema tarif sewa dan service charge yang saat ini masih menunggu respons dari para tenant.
“Kami sudah menyampaikan informasi mengenai besaran sewa, maupun service charge. Sekarang kami menunggu tanggapan mereka,” katanya.
Ia menegaskan, mempertahankan tenant lama menjadi prioritas utama. Karena mereka akan mendapat kesempatan pertama, untuk kembali menempati lokasi apabila nantinya investor membangun kembali Mal Lembuswana dengan konsep baru.
“Kalau nanti ada investor yang membangun mal baru, tenant eksisting tetap menjadi prioritas untuk kembali mengisi. Jadi mereka tidak perlu khawatir,” tegasnya.
Selain menjaga tenant lama, KTMBS juga mulai melakukan pendekatan kepada sejumlah merek nasional untuk mengisi ruang usaha di Mal Lembuswana.
Beberapa calon tenant, termasuk jaringan bioskop, disebut telah menunjukkan respons positif. Meski masih mempertimbangkan masa pengelolaan, yang saat ini ditetapkan selama satu tahun.
“Memang tantangannya adalah meyakinkan tenant baru. Mereka biasanya menghitung masa balik modal lima sampai enam tahun, sedangkan penugasan kami satu tahun. Itu yang sedang kami komunikasikan,” jelasnya.
Dalam pengelolaannya, KTMBS menerapkan sistem pembukuan terpisah. Seluruh pendapatan dan pengeluaran dari pengelolaan Mal Lembuswana akan dicatat secara khusus dan tidak dicampur dengan unit bisnis lain yang dimiliki perusahaan.
“Semua pemasukan dari mal akan digunakan kembali untuk operasional mal. Pembukuannya dipisahkan dari bisnis MBS yang lain,” katanya.
Untuk mendukung operasional, KTMBS juga telah membuka rekrutmen sejumlah posisi, termasuk tenaga kebersihan, keamanan, hingga manajemen. Mantan pekerja di Mal Lembuswana dipersilakan mengikuti proses seleksi kembali.
Di sisi lain, perusahaan juga mulai menyiapkan berbagai konsep pengembangan kawasan, mulai dari menghadirkan fasilitas olahraga padel hingga bioskop.
Namun, seluruh rencana tersebut masih akan melalui kajian kelayakan sebelum direalisasikan.
“Kami ingin semua keputusan berbasis kajian. Ide boleh banyak, tetapi tetap harus sesuai kebutuhan pasar dan layak secara bisnis,” ujarnya.
Abidharta menambahkan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan perubahan pengelola karena Mal Lembuswana tetap beroperasi seperti biasa.
“Mal ini tidak tutup. Ini hanya berganti pengelola. Aktivitas tetap berjalan dan kami berharap masyarakat tetap datang berbelanja seperti biasa,” pungkasnya.

