SAMARINDA: Di tengah maraknya budaya flexing di media sosial, gaya hidup sederhana mulai mendapat perhatian. Dua tren yang kerap diperbincangkan adalah Quiet Luxury dan Frugal Living.
Keduanya sama-sama identik dengan kesan tidak berlebihan, tetapi memiliki tujuan yang berbeda. Quiet Luxury menawarkan kemewahan tanpa perlu memamerkan logo, sementara Frugal Living mengajak seseorang lebih bijak dalam mengelola keuangan.
Sekilas terlihat serupa, tetapi apakah tampil sederhana selalu berarti hidup hemat?
Quiet Luxury dikenal sebagai gaya hidup yang mengutamakan kualitas, desain klasik, dan kemewahan yang tidak mencolok. Pakaian berwarna netral, potongan elegan, serta bahan premium menjadi ciri khasnya.
Namun, di balik tampilannya yang sederhana, harga barang-barang tersebut bisa sangat mahal.
Seperti yang dibahas Vogue dalam ulasannya tentang tren ini, kemewahan tanpa logo tetap dapat menjadi simbol status. Artinya, seseorang bisa terlihat sederhana tanpa benar-benar mengurangi pengeluaran.
Berbeda dengan Quiet Luxury, Frugal Living lebih menekankan kesadaran dalam menggunakan uang. Gaya hidup ini bukan tentang membeli barang paling murah, melainkan memilih sesuatu berdasarkan kebutuhan, manfaat, dan kemampuan finansial. Uang yang tidak digunakan untuk belanja impulsif dapat dialihkan ke tabungan, dana darurat, atau tujuan keuangan jangka panjang.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan Frugal Living bukanlah penampilan, melainkan kemampuan mengelola keuangan secara sehat.
Perbedaan keduanya semakin terlihat ketika muncul prinsip buy less, buy better, atau membeli lebih sedikit dengan kualitas yang lebih baik.
Bagi pelaku Frugal Living, membeli barang yang tahan lama bisa menjadi pilihan hemat selama sesuai kebutuhan dan anggaran.
Namun, membeli barang mahal dengan alasan investasi jangka panjang tidak selalu tepat. Sepatu seharga jutaan rupiah, misalnya, belum tentu menjadi keputusan bijak jika jarang digunakan atau membuat anggaran bulanan terganggu. Barang berkualitas memang penting, tetapi tetap harus sebanding dengan manfaatnya.
Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap pakaian polos tanpa logo besar sebagai tanda hidup sederhana.
Padahal, harga pakaian tersebut bisa jauh lebih mahal dibandingkan produk lokal dengan kualitas yang memadai. Dalam hal ini, penampilan tidak selalu mencerminkan kondisi keuangan seseorang.
Jika seseorang tetap membeli barang demi gengsi, hanya dengan memilih merek yang lebih tersembunyi, kebiasaan konsumtif sebenarnya belum berubah. Yang berubah hanyalah cara kemewahan itu ditampilkan.
Di sisi lain, Frugal Living juga bisa disalahartikan sebagai kebiasaan menekan pengeluaran secara berlebihan. Selalu memilih barang termurah, mengabaikan kualitas, atau mengorbankan kebutuhan penting bukanlah bentuk penghematan yang sehat.
Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) menjelaskan bahwa kesejahteraan finansial juga berkaitan dengan kemampuan menghadapi pengeluaran tak terduga, mencapai tujuan keuangan, dan memiliki keleluasaan dalam mengambil keputusan hidup.
Artinya, hidup hemat seharusnya memberikan rasa aman, bukan membuat seseorang terus-menerus merasa kekurangan.
Lantas, apakah Quiet Luxury dan Frugal Living bisa diterapkan bersamaan? Tentu saja. Seseorang tetap bisa tampil elegan tanpa harus membeli barang bermerek mahal. Memilih pakaian lokal dengan desain klasik, bahan nyaman, dan harga sesuai anggaran dapat menjadi alternatif.
Merawat barang agar tahan lama serta menghindari belanja impulsif juga membantu menjaga pengeluaran. Dengan begitu, seseorang bisa menikmati gaya berpakaian yang disukai tanpa harus mengorbankan kebutuhan finansial lainnya.
Pada akhirnya, Quiet Luxury dan Frugal Living memiliki pendekatan berbeda dalam memandang gaya hidup. Quiet Luxury berfokus pada kemewahan yang tidak mencolok, sedangkan Frugal Living mengutamakan pengelolaan uang secara sadar.
Keduanya tidak harus dipertentangkan, selama seseorang memahami kebutuhan dan kemampuan finansialnya. Sebab, tampil sederhana belum tentu berarti hidup hemat, dan hidup hemat tidak mengharuskan seseorang mengorbankan penampilan. Yang terpenting adalah tidak menjadikan barang sebagai ukuran nilai diri, serta mampu memilih gaya hidup yang memberikan ketenangan, bukan sekadar pengakuan dari orang lain.

