SAMARINDA: Sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim Joko Istanto menyebut, penurunan kualitas udara ini erat kaitannya dengan sebaran asap akibat karhutla. Asap yang terjadi, menurunkan tingkat kebersihan udara secara nasional.
Joko melalui keterangan resminya, menjelaskan, berdasarkan pemantauan aplikasi ISPUnet pada 30 Agustus 2026 pukul 16.00 WITA. Kabupaten Kutai Barat, mencatat kualitas udara terburuk. Stasiun pemantauan di Sendawar menunjukkan, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 318.
ISPU merupakan indeks yang digunakan, untuk menggambarkan tingkat pencemaran udara. Berdasarkan parameter pencemar tertentu. Semakin tinggi nilainya, semakin buruk kondisi kualitas udara.
Dalam ketentuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ISPU 0-50 masuk kategori Baik, 51-100 Sedang, 101-200 Tidak Sehat, 201-300 Sangat Tidak Sehat, sedangkan nilai 301 ke atas masuk kategori Berbahaya.
Dengan nilai 318, kualitas udara di Sendawar sudah melewati batas kategori Berbahaya.
Angka tersebut juga menunjukkan, kondisi yang jauh lebih buruk dibanding wilayah Kaltim yang masih berada pada kategori Sedang maupun Baik.
Meski demikian, angka tersebut mengalami penurunan dibanding pemantauan pada pukul 07.00 WITA yang sempat mencapai 376.
Sementara itu, kawasan Samboja, Kutai Kartanegara, yang berada di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN), masuk kategori Tidak Sehat. Titik Sanipah KPIKN mencatat ISPU 105, sedangkan Wonotirto KPIKN mencapai 180.
Artinya, kedua titik tersebut sudah berada di atas rentang kategori Sedang. Namun, nilainya masih berada di bawah ambang kategori Sangat Tidak Sehat yang dimulai dari 201.
Wilayah lain relatif lebih rendah. Taman Segiri Samarinda mencatat ISPU 67, Balikpapan Sepinggan 64, Penajam Paser Utara 70, serta kawasan KIPP IKN di Sepaku berada pada rentang 56-73.
Seluruhnya masuk kategori Sedang. Kota Bontang menjadi wilayah dengan kondisi udara paling baik dalam data ISPUnet tersebut, dengan ISPU 50 atau berada pada batas atas kategori Baik.
Selain pemantauan melalui AQMS Fixed Station yang terintegrasi dengan ISPUnet, DLH Kaltim juga menggunakan AQMS Portable dan Manual Active Sampler di sejumlah wilayah.
Di Berau, hasil pemantauan pada 28-29 Agustus 2026 mencatat ISPU 131 atau kategori Tidak Sehat dengan parameter kritis PM2.5. Sementara Kutai Kartanegara sempat mencatat ISPU 196, juga kategori Tidak Sehat, dengan parameter kritis ozon (O3).
Joko mengimbau masyarakat, khususnya kelompok sensitif di wilayah dengan kualitas udara kategori Tidak Sehat, untuk mengurangi aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan dan menggunakan masker pelindung.
DLH Kaltim bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) terus melakukan pemantauan dan mitigasi terhadap titik-titik yang berpotensi memicu karhutla.

