SAMARINDA: Kekeringan yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak pada ketersediaan air baku untuk produksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Kota Samarinda.
Kondisi tersebut terlihat dari terus menurunnya elevasi air di Waduk Benanga yang menjadi salah satu sumber air baku PDAM.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Andri Rachmanto Wibowo mengatakan penurunan tampungan air terjadi karena tidak adanya hujan dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan terakhir.
“Waduk Benanga ini tampungan airnya sudah berkurang karena tidak ada hujan dalam beberapa minggu atau beberapa bulan,” kata Andri di Samarinda, Jumat, 25 September 2026.
Salah satu langkah yang telah dilakukan yakni membuat alur air di Waduk Benanga agar air yang masih tertahan dapat terkumpul di sekitar intake PDAM.
Selain itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda juga telah membuat alur dari Waduk Dayung untuk membantu menyuplai air menuju intake PDAM di Waduk Benanga.
Waduk Dayung sendiri memiliki kapasitas sekitar 340.000 meter kubik. Setelah aliran air dari waduk tersebut dibuka, elevasi Waduk Benanga disebut mengalami peningkatan hingga mencapai 6,45 meter.
Namun, penggunaan air oleh PDAM setiap hari membuat elevasi kembali mengalami penurunan sekitar 5 sentimeter. Berdasarkan pemantauan tim di lapangan, elevasi Waduk Benanga kini berada di sekitar 6,4 meter.
Andri menjelaskan, kondisi tersebut perlu segera diantisipasi karena apabila elevasi air turun hingga 6 meter, air di Waduk Benanga sudah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk produksi PDAM.
Karena itu, dalam rapat tersebut disepakati langkah berikutnya berupa pemompaan air dari Waduk Dayung menuju Waduk Benanga.
“Dari Waduk Dayung itu akan dilakukan pemompaan sehingga nanti bisa masuk ke alur dan mengisi Benanga dan bisa dimanfaatkan oleh PDAM,” jelasnya.
Menurut Andri, dengan kapasitas Waduk Dayung sekitar 340.000 meter kubik dan kebutuhan pemanfaatan sekitar 5.200 meter kubik per hari, cadangan tersebut secara hitungan dapat menopang kebutuhan hingga sekitar 65 hari.
“Dari 340.000 meter kubik itu jika dimanfaatkan sekitar 5.200 meter kubik per hari, itu bisa 65 hari,” ujarnya.
Dengan skema tersebut, masyarakat Samarinda yang mendapatkan pasokan PDAM dari kawasan Lempake diminta tidak khawatir. BWS memperkirakan ketersediaan air masih dapat dipertahankan hingga sekitar dua bulan ke depan.
Andri juga menyebut kondisi tersebut masih berpotensi terbantu apabila hujan kembali turun. Terlebih, berdasarkan perkiraan cuaca yang disampaikan dalam pembahasan, hujan diperkirakan mulai terjadi pada Oktober hingga November.
“Insyaallah kita aman. Apalagi kalau hari ini juga terjadi hujan, itu memang lumayan sudah menambah,” katanya

