SAMARINDA: Cacingan pada anak bukan sekedar masalah kebersihan. Infeksi ini dapat mengganggu penyerapan nutrisi, meningkatkan risiko anemia, hingga menghambat pertumbuhan dan kemampuan anak dalam mengikuti pelajaran di sekolah.
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) pun mendorong penguatan pencegahan kecacingan melalui pemberian obat cacing, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pengawasan kebersihan lingkungan sekolah.
Kepala Dinkes Kaltim Andi Muhammad Ishak menegaskan, pencegahan perlu dilakukan sejak dini, terutama pada anak usia sekolah. Meski demikian, upaya serupa juga penting bagi anak-anak secara umum, termasuk balita.
Menurutnya, cacingan yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko anemia akibat terganggunya kondisi gizi anak. Dalam jangka panjang, masalah ini juga berpotensi berkontribusi terhadap risiko stunting dan mempengaruhi prestasi belajar.
“Jika masih banyak anak yang mengalami cacingan, potensi terjadinya anemia akan semakin besar. Kondisi ini juga dapat berkontribusi terhadap risiko stunting dan mempengaruhi prestasi belajar anak,” tegasnya.
Pemberian obat cacing menjadi salah satu langkah penting untuk menekan risiko infeksi. Namun, upaya tersebut perlu dibarengi dengan perubahan kebiasaan sehari-hari agar anak tidak mudah terpapar kembali.
Kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat menjadi bagian penting dari pencegahan. Ishak mengingatkan, tingginya indikator kecacingan perlu menjadi perhatian bersama karena dapat berkaitan dengan kondisi sanitasi serta kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan.
Beberapa kebiasaan sederhana dapat mulai diterapkan sejak dini, seperti mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah dari toilet, menjaga kebersihan kuku, serta menggunakan alas kaki ketika bermain atau beraktivitas di luar ruangan.
Anak juga perlu dibiasakan mengonsumsi makanan yang bersih dan matang, serta menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Kebiasaan ini membantu mengurangi risiko paparan parasit penyebab cacingan.
Pencegahan kecacingan tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Diperlukan kerja sama antara puskesmas, sekolah, keluarga, serta instansi yang menangani sanitasi dan lingkungan.
Sekolah dapat mengambil peran melalui edukasi kesehatan secara rutin, pembiasaan mencuci tangan, serta pemeliharaan toilet dan fasilitas sanitasi agar tetap bersih dan layak digunakan. Pengawasan lingkungan sekolah juga diperlukan untuk membantu menciptakan ruang belajar yang sehat bagi anak.
Di rumah, orang tua berperan membangun kebiasaan hidup bersih secara konsisten. Mengingatkan anak untuk mencuci tangan, memakai alas kaki, menjaga kebersihan tubuh, dan tidak sembarangan memasukkan tangan atau benda kotor ke mulut merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari.
Melalui upaya terpadu tersebut, Dinkes Kaltim berharap risiko penularan kecacingan pada anak dapat ditekan. Pencegahan sejak dini bukan hanya bertujuan menjaga anak tetap sehat, tetapi juga mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kemampuan mereka untuk belajar secara optimal.

