SAMARINDA: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) mencapai 2.342 kejadian dengan total luas area terdampak 9.327,23 hektar hingga 22 Oktober 2026. Kabupaten Paser menjadi wilayah dengan frekuensi kebakaran tertinggi, sedangkan Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat luas lahan terdampak terbesar.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, data tersebut menjadi dasar pemetaan kejadian karhutla di sepuluh kabupaten dan kota. Pemerintah daerah juga memperkuat kesiapsiagaan personel gabungan untuk mengendalikan kebakaran.
“Hingga 22 Oktober 2026 akumulasi kejadian karhutla di Kaltim mencapai 2.342 kejadian dengan luas area terdampak 9.327,23 hektare,” kata Buyung di Samarinda, Jumat, 23 Oktober 2026.
Berdasarkan data BPBD Kaltim, Paser mencatat 615 kejadian karhutla dengan luas terdampak 1.753,03 hektare. Sementara itu, Kutai Kartanegara mengalami 418 kejadian dengan luas lahan terdampak mencapai 2.884 hektare.
Kutai Barat dan Berau juga mencatat luas kebakaran lebih dari 1.000 hektare. Di Kutai Barat, terdapat 212 kejadian dengan luas terdampak 1.369,12 hektare. Adapun Berau mencatat 249 kejadian dengan luas area terbakar 1.031,55 hektare.
Di Penajam Paser Utara, BPBD Kaltim mencatat 243 kejadian karhutla dengan luas terdampak 905,05 hektare. Sementara itu, Kutai Timur mengalami 153 kejadian dengan luas area terdampak 487,46 hektare.
Untuk wilayah perkotaan, Samarinda mencatat 289 kejadian dengan luas lahan terdampak 730,97 hektare. Balikpapan mengalami 114 kejadian dengan luas area terbakar 104,04 hektare.
Adapun Mahakam Ulu mencatat 34 kejadian dengan luas terdampak 45,80 hektar. Bontang menjadi wilayah dengan jumlah kejadian dan luas terdampak paling kecil di antara daerah yang tercatat, yakni 15 kejadian dengan luas 16,23 hektar.
Buyung juga mengungkapkan, seluruh kejadian karhutla selama Oktober yang mencakup area seluas 1.627,97 hektare terjadi di lahan milik masyarakat.
“Seluruh kejadian karhutla selama bulan Oktober seluas 1.627,97 hektar seluruhnya terjadi pada area lahan masyarakat,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi dan menangani kebakaran, Pemerintah Provinsi Kaltim menyiagakan posko terpadu di sepuluh kabupaten dan kota. Upaya tersebut didukung pengerahan 11.000 personel gabungan pemadam kebakaran.
Penanganan dilakukan melalui pemadaman dari darat dan udara. Penggunaan sarana pemadaman udara juga terus dioptimalkan, terutama untuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
BPBD Kaltim mengimbau masyarakat menjaga lingkungan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar untuk mencegah bertambahnya kejadian karhutla.

