SAMARINDA: Aksi 214 Jilid II di depan Gedung DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Senin, 4 Mei 2026 sempat memanas hingga massa berhasil menembus gerbang dan masuk ke halaman kantor dewan untuk mendesak pengguliran hak angket.
Ribuan massa dari gabungan mahasiswa dan buruh mulai memadati Jalan Teuku Umar sejak pukul 15.00 WITA. Sekitar 2.500 orang diperkirakan turun dalam aksi lanjutan dari demonstrasi 21 April lalu.
Pantauan di lapangan, aparat gabungan dari kepolisian dan Satpol PP telah berjaga dengan pengamanan ketat, termasuk pemasangan kawat berduri di sekitar gerbang DPRD yang juga terlihat dilumuri oli.
Selama kurang lebih satu jam, orasi berlangsung secara bergantian. Namun situasi mulai tidak kondusif sekitar pukul 16.40 WITA ketika massa mencoba merusak kawat berduri.
Ketegangan meningkat saat peserta aksi mempertanyakan dugaan tindakan represif terhadap demonstran.
“Siapa itu kawan kami yang dipukul?” teriak salah satu mahasiswa di tengah aksi.
Aparat sempat mengimbau massa untuk tetap tertib. “Kami mohon tetap menjaga kondusivitas, jangan sampai terprovokasi,” ujar salah satu petugas melalui pengeras suara.
Sekitar pukul 16.45 WITA, gerbang DPRD Kaltim akhirnya berhasil dibuka massa. Lima menit berselang, massa mulai memasuki halaman gedung.
Setelah berhasil masuk ke halaman DPRD Kaltim, situasi berangsur kembali kondusif. Massa melanjutkan aksi dengan orasi yang disampaikan secara bergantian di depan gedung dewan.
Di lokasi, sejumlah anggota DPRD terlihat bersiap menerima massa, di antaranya Husni Fahruddin, Abdullah, dan Sayid Muzarobi.
Selain mendesak pengguliran hak angket, massa juga menuntut keterbukaan informasi terkait proses penandatanganan yang dinilai belum jelas pasca aksi sebelumnya.
Mereka juga meminta agar rapat terkait hak angket yang akan berlangsung hari ini disiarkan secara langsung melalui videotron di halaman DPRD Kaltim.
“Kami minta rapat hak angket disiarkan terbuka agar masyarakat tahu prosesnya,” seru salah satu orator.
Aksi ini merupakan lanjutan dari demonstrasi 21 April. Massa juga menyampaikan kekecewaan karena tidak diizinkan menggunakan area Masjid Islamic Center sebagai titik kumpul.
Hingga berita ini diturunkan, massa masih bertahan di halaman DPRD Kaltim dengan pengamanan ketat dari aparat gabungan.

