SAMARINDA: Kematian balita berinisial YS (1 tahun 2 bulan) di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, pada Kamis 15 Oktober 2026 setelah mengalami sesak napas memunculkan dugaan kaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepada awak media, di Ruang Rapat RS Mulya Medika, Sabtu, 17 Oktober 2026, Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Mulya Medika Ikhsan Ali yang menangani balita YS memberikan penjelasan terkait kasus kematian pasien tersebut.
“Kalau memang terkait apakah ini penyebabnya adalah karhutla, saya tidak bisa pastikan. Yang pasti pasien ini memang mengalami gangguan pernapasan. Banyak sekali penyebab gangguan pernapasan pada anak,” kata Ikhsan.
Ia menjelaskan, gangguan pernapasan pada anak dapat disebabkan berbagai faktor. Salah satunya pneumonia, yakni infeksi atau peradangan pada paru-paru, yang dapat dipicu oleh beragam faktor lingkungan maupun infeksi.
Menurutnya, paparan polusi udara, asap rokok, asap kendaraan, hingga asap kebakaran lahan dapat menjadi faktor yang memengaruhi kesehatan pernapasan. Namun, untuk menetapkan penyebab pasti kematian pasien, diperlukan pemeriksaan yang dapat mendukung kesimpulan medis.
Ikhsan menyebut, tanpa pemeriksaan post-mortem atau autopsi, pihaknya tidak dapat memastikan apakah kematian pasien berkaitan dengan paparan asap kebakaran lahan.
“Jadi kami tidak bisa memastikan karena tidak ada otopsi juga,” ujarnya.
Ia menegaskan, kondisi pasien mengalami perburukan sebelum meninggal dunia. Namun, Ikhsan tidak bersedia mengungkap diagnosis akhir maupun informasi medis terperinci karena terikat ketentuan kerahasiaan pasien dan etika kedokteran.
Terkait penanganan awal, Ikhsan menjelaskan pasien datang dengan membawa rujukan dari fasilitas kesehatan Puskesmas Palaran. Pasien kemudian diperiksa melalui layanan poli anak dan, setelah evaluasi medis, dinilai memerlukan perawatan inap.
Ia juga menyatakan bahwa keputusan penempatan pasien di ruang perawatan intensif anak atau PICU bergantung pada kondisi klinis dan penilaian medis saat itu. Namun, ia tidak memerinci kondisi pasien secara khusus karena alasan kerahasiaan medis.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, Ismid Kusasih, menyatakan pihaknya telah melakukan penelusuran dan surveilans ke rumah sakit tempat balita tersebut terakhir dirawat.
Ismid menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penelusuran Dinkes, kematian balita tersebut dipastikan bukan disebabkan karhutla.
“Kami dari Dinkes sudah melakukan penelusuran dan melakukan surveilans pada rumah sakit terakhir di mana bayi tersebut meninggal, dan dipastikan bahwa yang bersangkutan meninggal bukan karena karhutla,” ujar Ismid, Sabtu pagi 17 Oktober.
Kasus meninggalnya balita tersebut menjadi perhatian karena terjadi ketika kebakaran lahan dan kepulan asap dilaporkan menyelimuti sejumlah kawasan di Samarinda, termasuk Palaran.

