
BONTANG: DPRD Kota Bontang mengusulkan agar pembelajaran bahasa daerah dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah sebagai upaya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat.
Anggota Komisi B DPRD Kota Bontang Suharno mengatakan, bahasa daerah merupakan bagian penting dari warisan budaya yang perlu dikenalkan dan diwariskan kepada generasi muda sejak dini.
Menurutnya, sekolah menjadi salah satu ruang yang paling efektif untuk menanamkan pemahaman budaya kepada peserta didik.
“Budaya lokal harus terus dijaga. Salah satu cara yang paling efektif adalah melalui bahasa, karena bahasa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas budaya suatu daerah,” ujarnya, Kamis, 4 Juni 2026.
Suharno menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial semata. Diperlukan langkah yang lebih berkelanjutan agar generasi muda tetap mengenal, memahami, dan menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengatakan Bontang memiliki keragaman budaya dan bahasa daerah yang perlu terus dijaga keberlangsungannya. Karena itu, pemerintah daerah bersama Dinas Pendidikan diharapkan dapat mempertimbangkan pembelajaran bahasa daerah sebagai bagian dari muatan lokal di sekolah.
Suharno mencontohkan sejumlah daerah yang masih mempertahankan pengajaran bahasa daerah di sekolah sebagai bentuk pelestarian budaya.
“Di Jawa sampai sekarang bahasa Jawa masih diajarkan di sekolah-sekolah SD. Bahkan aksara Jawa juga tetap dipelajari. Itu menjadi salah satu bentuk nyata menjaga budaya agar tidak hilang,” katanya.
Menurutnya, pembelajaran bahasa daerah tidak hanya mengajarkan kemampuan berbahasa, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah, nilai-nilai, dan kearifan lokal kepada peserta didik.
Dengan memahami bahasa daerah, generasi muda diharapkan memiliki kedekatan dengan budaya asalnya serta rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya tersebut di masa depan.
“Ini hanya masukan, tetapi saya kira penting untuk dipertimbangkan. Jangan sampai generasi muda kita kehilangan kemampuan berbahasa daerah dan semakin jauh dari budayanya sendiri,” pungkasnya. (Adv)

