JAKARTA : Kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) selama tahun 2024, mencapai Rp300,2 triliyun terdiri dari penerimaan kepabeanan dan cukai. Jumlah ini tumbuh 4,9 persen.
Demikian penjelasan Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa DJBC Nirwala Dwi Heryanto saat bincang-bincang dengan narasi.co, usai acara Media Brifieng Kinerja DJBC 2024 dan Strategi 2025, Jumat, 10 Januari 2025, di Museum Bea Cukai, Gedung Sulawesi, Kantor Pusat DJBC.
Menurut Nirwala, pendapatan yang meningkat ini dipengaruhi kinerja ekspor – impor dan terjadi fenomena downtrading (pelemahan perdagangan).
Meski begitu, penerimaan ini meningkat dari tahun 2023 yang hanya Rp286,16 triliun.
Dikatakan, penerimaan tersebut berasal dari bea masuk sebesar Rp53,0 triliun atau tumbuh 4,1 persen (yoy), penerimaan bea keluar sebesar Rp20,9 triliun atau tumbuh 53,6 persen (yoy).
Penerimaan cukai hasil tembakau sebesar Rp216,9 triliun atau tumbuh 1,6 persen (yoy) dan penerimaan cukai MMEA dan EA sebesar Rp9,2 triliun atau tumbuh 13,9 persen (yoy).
Keberhasilan implementasi program reformasi ini, kata Nirwala, juga melibatkan berbagai pihak. Termasuk integrasi data lintas kementerian dan lembaga.
“Kolaborasi menjadi kunci utama untuk menciptakan sistem kepabeanan dan cukai yang modern, transparan dan akuntabel,” papar Nirwala.
Dijabarkan, Bea Cukai sebagai trade dan industrial facilitator, memiliki empat strategi pelayanan untuk memfasilitasi perdagangan dan industri.
Pertama, Bea Cukai melakukan perbaikan proses bisnis ekspor, impor dan layanan pemeriksaan. Bea Cukai. Melakukan penyempurnaan regulasi, dan harmonisasi kebijakan.
Sehingga menciptakan keselarasan regulasi, dengan perpajakan, percepatan proses kepabeanan. Efisiensi waktu dan biaya serta peningkatan pengawasan.
Dalam pelaksanaan impor, realisasi durasi dwelling time fluktuatif pada lima tahun terakhir dengan data hingga Desember 2024 3,52 hari.
Namun, proses clearance kepabeanan mengalami percepatan selama lima tahun berturut-turut, hingga Desember 2024 mencapai 0,49 hari.
Pelayanan ekspor juga mengalami percepatan dari semula 20 menit menjadi sekitar 15 menit.
Nirwala mengungkapkan bahwa percepatan penataan sistem logistik nasional juga terus diupayakan melalui perluasan implementasi national logistic ecosystem (NLE).
Sampai dengan 2024, telah terealisasi 53 pelabuhan dan 7 bandara internasional di Indonesia yang menerapkan NLE.
“Dengan implementasi NLE, pengguna jasa mampu mengefisiensi waktu dan biaya untuk pengeluaran peti kemas dari pelabuhan,” imbuhnya.
Kedua, digitalisasi dan modernisasi proses bisnis melalui pengembangan sistem aplikasi Customs-Excise Information System and Automation (CEISA).
Hasilnya, tingkat downtime CEISA mengalami penurunan. Sementara, kecepatan waktu sistem merespons mengalami percepatan, yang semula 6 detik menjadi 18,8 milidetik.
CEISA berperan penting dalam revenue forecasting analytics dan Joint Probis IT untuk mendukung penerimaan negara. CEISA juga berperan dalam mengoptimalkan kegiatan operasional dan layanan.
Ketiga, peningkatan pelayanan fasilitas kepabeanan untuk mendukung industri dalam negeri. Bea Cukai memberikan dukungan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui optimalisasi Klinik Ekspor dan pemberian fasilitas KITE IKM.
Pada tahun 2024, dari 1.364 UMKM binaan Bea Cukai terdapat 461 UMKM berhasil melakukan ekspor mandiri dan 158 UMKM berhasil ekspor melalui pihak ketiga.
Bea Cukai juga memberikan fasilitas pembebasan fiskal pada penanganan Covid-19 dan importasi untuk Badan Internasional.
Hasilnya, realisasi nilai pembebasan mengalami peningkatan pada tiga tahun terakhir. Permohonan pembebasan juga mengalami efisiensi waktu pengajuan permohonan, yang semula lima hari menjadi satu jam.
Keempat, perbaikan pelayanan cukai melalui digitalisasi proses perizinan dan pelayanan fasilitas cukai.
Percepatan pelayanan cukai dilakukan melalui digitalisasi layanan cukai dan simplifikasi dokumen.
Dukungan Bea Cukai terhadap industri tembakau berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja pada pabrik hasil tembakau, sehingga jumlah tenaga kerja mengalami peningkatan pada empat tahun terakhir.(*)

