SAMARINDA: Munculnya longsoran diproyek Terowongan Samarinda sisi Jalan Sultan Alimuddin, jadi perbincangan masyarakat. Selain karena proyek strategis yang dikerjakan sejak 2022, belum juga dapat digunakan. Juga, sisi jalan selalu terjadi longsor.
Terowongan sepanjang sekitar 400 meter tersebut, dibangun sebagai salah satu solusi untuk mengurai kemacetan di kawasan Jalan Sultan Alimuddin dan sekitarnya.
Namun, memasuki tahun 2026, proyek tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk persoalan longsor yang terjadi di area lereng.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Terowongan Samarinda Rezky Samudra Aprilyan menjelaskan, material yang terlihat longsor saat ini bukan merupakan kejadian baru.
Namun hingga kini belum ada solusi penanganannya, karena pelaksanaan pekerjaan tersebut belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Sebab masih menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran.
Rezky memperkirakan, penanganan lereng kemungkinan baru dapat direalisasikan pada tahun depan.
Menurutnya, runtuhan tersebut merupakan sisa longsoran sebelumnya yang kembali turun di permukaan lereng.
“Ini bukan longsoran baru. Ini yang kemarin juga dan sudah terklarifikasi. Mungkin ada runtuhan yang timbul di permukaan, sisa-sisa yang kemarin dan nanti akan ditangani juga,” ujarnya, Jumat, 29 Mei 2026.
Rezky mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan indikasi adanya longsor baru di lokasi tersebut. Titik runtuhan yang terjadi, masih berada di area yang sama dengan kejadian sebelumnya.
Ia menjelaskan, kondisi itu turut dipengaruhi oleh faktor lahan di sekitar lokasi. Saat proyek mulai dikerjakan, sebagian area yang mengalami longsor berada di luar batas ruang milik jalan (right of way/ROW) karena lahan tersebut belum dibebaskan.
“Kalau untuk lokasi dan titik longsor, sementara ini hanya di situ memang. Itu juga awalnya datang dari luar ROW. Tapi sekarang lahannya sudah dibebaskan,” katanya.
Meski tidak berdampak signifikan terhadap struktur utama terowongan, pemerintah tetap akan melakukan penanganan untuk meningkatkan stabilitas lereng. Salah satu metode yang disiapkan yakni memangkas atau meratakan bagian lereng agar kemiringannya lebih landai.
“Harus ditangani semua. Desain penanganannya juga sudah ada. Mungkin akan dipapas di bagian atasnya,” jelasnya.
Di sisi lain, ia memastikan kondisi longsoran tidak akan memberikan dampak besar terhadap operasional terowongan. Pasalnya, struktur di area mulut terowongan telah diperkuat sejak awal pembangunan.
“Tidak sebegitu signifikan ketika nanti terowongan digunakan karena sudah ada kekuatannya juga di bawah sebagai tambahan,” ujarnya.
Saat ini, pemerintah masih fokus menyelesaikan tahapan perizinan sebelum terowongan dapat dibuka untuk umum.
Apabila seluruh proses berjalan sesuai rencana, terowongan berpotensi mulai dioperasikan meski pekerjaan penataan lereng di bagian atas masih berlangsung.

