SAMARINDA: Maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual terhadap anak. Hingga kasus yang melibatkan tenaga pendidik, menjadi perhatian utama Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3A) Kalimantan Timur, Syarifah Alawiyah.
Syarifah Alawiyah yang akrab disapa Yuyun, mengaku, usai dilantik dirinya langsung dihadapkan dengan berbagai pekerjaan rumah.
Menurut Yuyun, upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga. Sebab keluarga merupakan fondasi utama, dalam membentuk karakter anak. Sekaligus benteng pertama, untuk mencegah berbagai bentuk kekerasan.
“Kita tahu sekarang banyak kasus KDRT, pencabulan, dan berbagai persoalan lainnya. Terpenting bagaimana memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama kepada perempuan, agar tidak menjadi pihak yang lemah,” ujarnya, Senin, 29 Juni 2026.
Ia menekankan, orang tua memiliki peran sentral dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Kesibukan bekerja, tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan komunikasi dan perhatian kepada keluarga.
Yuyun mengaku menerapkan hal tersebut dalam kehidupan pribadinya sebagai ibu dari empat anak perempuan.
Di tengah aktivitasnya, ia selalu menyempatkan waktu berkumpul bersama keluarga, terutama pada malam hari, untuk berdialog dan membangun kedekatan emosional.
“Anak itu baik atau tidak, berawal dari keluarga. Orang tua harus menyediakan waktu untuk berdialog dengan anak-anak. Dari situ kita bisa mengetahui apa yang mereka rasakan,” katanya.
Ia juga menyoroti penggunaan telepon genggam, yang tidak diawasi sebagai salah satu tantangan besar bagi keluarga saat ini.
Menurutnya, minimnya pengawasan orang tua dapat berdampak pada rusaknya moral anak.
“Handphone sekarang bisa menjadi salah satu faktor yang merusak moral anak kalau tidak ada pendampingan. Karena itu, edukasi dari orang tua sangat penting,” tegasnya.
Selain memperkuat ketahanan keluarga, Yuyun juga menyoroti maraknya kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan, termasuk dugaan pelecehan seksual yang melibatkan tenaga pendidik di sekolah maupun pesantren.
Untuk mencegah kasus serupa, DP3A Kaltim berencana memperkuat edukasi secara langsung kepada masyarakat dengan turun ke lapangan, khususnya di wilayah-wilayah yang dinilai rawan.
“Tentunya kami akan bersinergi dengan berbagai pihak agar upaya pencegahan ini berjalan maksimal,” ujarnya.
Yuyun berharap, kolaborasi antara pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat memperkuat perlindungan terhadap perempuan dan anak di Kalimantan Timur. Sekaligus menekan angka kekerasan yang masih menjadi tantangan di daerah.

