SAMARINDA: Produksi sampah di Kota Samarinda mencapai sekitar 600–660 ton per hari. Kondisi ini menjadi persoalan lingkungan yang kian krusial seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas perkotaan yang terus meningkat.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda memproyeksikan timbulan sampah tahunan mencapai sekitar 253.385 ton. Sektor rumah tangga menjadi penyumbang terbesar, disusul pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan kawasan komersial.
Sampah organik berupa sisa makanan masih mendominasi dengan porsi sekitar 40 persen. Di sisi lain, sampah plastik juga menjadi perhatian karena berdasarkan data SIPSN Kementerian Lingkungan Hidup, komposisi sampah plastik di Kalimantan Timur meningkat menjadi 19,3 persen dari sebelumnya 16 persen.
Di Samarinda, jumlah tersebut setara dengan hampir 80 ton sampah plastik yang dihasilkan setiap hari. Limbah plastik yang tidak tertangani berpotensi menyumbat aliran anak sungai Mahakam dan mencemari kawasan ruang publik, termasuk Teras Samarinda.
Persoalan tersebut mendorong Himpunan Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi (HIMAKSI) Universitas Mulawarman melalui Divisi Social Sustainable menggelar program Caring.com bertajuk Jejak Bumi Berdaya 2026.
Mengusung tema “From Trash to Cash”, kegiatan tersebut dirancang sebagai edukasi sekaligus aksi praktis untuk mendorong mahasiswa lebih sadar dalam memilah dan mengelola sampah. HIMAKSI menggandeng Bank Sampah Faperta Unmul sebagai pemateri sekaligus kolaborator.
Wakil Dekan III FISIP Unmul Daryono mengatakan persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyediakan fasilitas, tetapi membutuhkan perubahan cara pandang dan kebiasaan masyarakat.
“Pemilahan sampah ini sebenarnya mudah, tapi susah, maka kita perlu yang namanya edukasi,” kata Daryono, di Gedung OECF Lab Agronomi Faperta Unmul, Sabtu 26 September 2026.
Menurutnya, kolaborasi mahasiswa dengan Bank Sampah Faperta Unmul menjadi salah satu langkah untuk membangun kesadaran tersebut. Ia juga mendorong mahasiswa menjadi contoh bagi masyarakat dalam mengelola sampah.
“Jangan jadi sampah yang nggak berguna, kalau mau jadi sampah, sekalian jadilah sampah yang bernilai,” ujarnya.
Ketua Panitia Jejak Bumi Berdaya 2026 Nur Rahma Aidillah mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya dikemas dalam bentuk diskusi, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada peserta.
“Selain memberikan ruang untuk sosialisasi mengenai pemilahan sampah kepada peserta, kami juga langsung mengarahkan peserta untuk membuat buku tabungan bank sampah, yang kemudian kegiatan juga disambung dengan pembuatan kerajinan,” jelasnya.
Peserta diperkenalkan dengan keberadaan dan fungsi Bank Sampah Faperta Unmul, sekaligus diajak memahami persoalan sampah di tengah pola konsumsi masyarakat modern.
Materi juga membahas fenomena fast fashion, penggunaan kertas sekali pakai, serta pemanfaatan kembali barang yang masih layak melalui konsep preloved maupun donasi sebelum membeli barang baru.
Selain konsep 3R (reduce, reuse, recycle), peserta diperkenalkan dengan konsep 9R sebagai pendekatan untuk mendorong gaya hidup minim sampah.
Edukasi kemudian diarahkan pada kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari, seperti membawa tumbler, memilah sampah berdasarkan jenisnya, menggunakan kembali barang yang masih layak dan menyetorkan sampah bernilai ekonomi ke bank sampah.
Kegiatan juga diisi dengan kuis interaktif untuk menguji pemahaman peserta mengenai materi pemilahan dan pengelolaan sampah.
Dalam sesi praktik, peserta mendapatkan panduan langsung dari Bank Sampah Faperta Unmul mengenai cara memilah sampah berdasarkan jenis materialnya.
Peserta juga diarahkan melakukan pendaftaran dan membuka rekening tabungan Bank Sampah Faperta. Mereka mendapat informasi mengenai jenis sampah yang memiliki nilai jual serta mekanisme penukaran sampah menjadi nilai ekonomi.
Sampah bernilai jual yang dibawa peserta kemudian dapat langsung dikumpulkan dan ditabung.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan praktik daur ulang limbah plastik menjadi produk bernilai guna berupa gantungan kunci atau keychain.
Dengan pendampingan tim Bank Sampah Faperta Unmul, peserta dan anggota HIMAKSI mengolah limbah plastik menjadi berbagai bentuk kerajinan. Antusiasme peserta terlihat selama proses pembuatan hingga masing-masing membawa pulang hasil kreasinya.
Nur Rahma berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan edukasi, tetapi dapat mendorong gerakan kolektif mahasiswa dalam menangani persoalan sampah dari lingkungan terkecil.
Melalui Jejak Bumi Berdaya 2026, HIMAKSI Unmul dan Bank Sampah Faperta Unmul mendorong mahasiswa untuk melihat sampah bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai material yang dapat dikelola dan memiliki nilai ekonomi.

