JAKARTA: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga, di tengah tanda-tanda perlambatan ekonomi global.
Hal ini disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK, Jumat, 7 November 2025.
Menurut Mahendra, kinerja ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan ekonomi triwulan III mencapai 5,04 persen (yoy) dan indeks PMI manufaktur yang masih berada di zona ekspansi.
“Perekonomian nasional menunjukkan ketahanan yang baik di tengah ketidakpastian global. Namun, permintaan domestik perlu terus diperkuat, terutama karena moderasi inflasi inti dan tren penjualan ritel, semen, serta kendaraan,” jelas Mahendra.
OJK menyoroti bahwa sejumlah indikator ekonomi global menunjukkan perlambatan aktivitas di berbagai kawasan.
Namun, IMF melalui laporan World Economic Outlook Oktober 2025 justru merevisi naik proyeksi pertumbuhan global, seiring dengan membaiknya kebijakan moneter internasional dan kesepakatan perdagangan antarnegara.
Meski demikian, OJK menilai sektor keuangan Indonesia tetap tangguh dan adaptif terhadap dinamika global tersebut.
Kinerja Pasar Modal, Derivatif Keuangan, dan Bursa Karbon (PMDK) pada Oktober 2025 tercatat terus membaik, didorong oleh sentimen positif terhadap ekonomi global dan stabilitas domestik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Oktober 2025 ditutup di level 8.163,88, naik 1,28 persen (mtm) atau 15,31 persen (ytd).
Bahkan, IHSG sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All-Time High) di level 8.274,34 pada 23 Oktober 2025.
Nilai kapitalisasi pasar saham juga menembus Rp15.560 triliun pada 10 Oktober 2025, menjadi yang tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Selain itu, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) saham mencapai Rp25,06 triliun, rekor baru sepanjang masa.
Secara kumulatif, RNTH hingga akhir Oktober 2025 tercatat Rp16,62 triliun, naik signifikan dibandingkan Rp12,85 triliun pada 2024.
Kenaikan ini terutama ditopang oleh peningkatan partisipasi investor ritel domestik.
Sementara investor asing membukukan net buy senilai Rp12,96 triliun sepanjang Oktober, meski secara tahun berjalan masih tercatat net sell Rp41,79 triliun.
Kinerja pasar obligasi juga melanjutkan tren positif. Indeks Komposit Obligasi Indonesia (ICBI) naik 2,02 persen (mtm) atau 11,55 persen (ytd) menjadi 438,03.
Tren penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) masih berlanjut, dengan rata-rata turun 25,68 basis poin (mtm) dan 88,36 basis poin (ytd).
Investor nonresiden mencatat net sell Rp27,56 triliun (mtm) di pasar SBN, namun masih net buy Rp3,89 triliun (ytd).
Di pasar obligasi korporasi, investor asing membukukan net sell Rp0,28 triliun (mtm) dengan akumulasi Rp1,50 triliun (ytd).
Pada industri pengelolaan investasi, total Asset Under Management (AUM) mencapai Rp969,03 triliun, naik 4,98 persen (mtm) dan 15,72 persen (ytd).
Sedangkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana tumbuh lebih kuat menjadi Rp623,23 triliun, naik 7,95 persen (mtm) atau 24,83 persen (ytd).
Pertumbuhan ini ditopang oleh net subscription investor Rp45,10 triliun (mtm), dengan total Rp90,60 triliun (ytd), terutama pada Reksa Dana berbasis pendapatan tetap dan pasar uang.
Per akhir Oktober 2025, jumlah investor pasar modal bertambah 520 ribu menjadi 19,18 juta, meningkat 29,01 persen (ytd) atau 4,31 juta investor baru sepanjang 2025.
Selain itu, pipeline pasar modal masih cukup kuat dengan 27 rencana penawaran umum bernilai indikatif Rp20,21 triliun.
“Industri jasa keuangan menunjukkan ketahanan dan optimisme yang tinggi. OJK akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” pungkas Mahendra.

