SAMARINDA: Dinas Komunikasi dan informatika (Kominfo) Kalimantan Timur (Kaltim), mengungkap berbagai risiko di ruang digital yang mengancam anak dan orang tua, mulai dari paparan hoaks, penipuan daring, hingga dampak negatif konten pendek di media sosial.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Dialog Penguatan Kebangsaan dan Moderasi Beragama yang digelar di Hotel Grand Sawit Samarinda, Selasa, 23 Desember 2025.
Penelaah Teknis Kebijakan Kominfo, Dafa Ezra, menekankan bahwa peningkatan literasi digital di kalangan keluarga menjadi kunci utama untuk mencegah dampak buruk teknologi informasi, terutama terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua.
Menurut Dafa, orang tua saat ini justru menjadi sasaran utama kejahatan siber, khususnya penipuan digital dan phishing.
Rendahnya pemahaman terkait keamanan digital membuat kelompok usia tersebut lebih mudah terjebak modus kejahatan berbasis teknologi.
“Target utama kejahatan siber itu justru orang tua. Kalau hoaks biasanya menyasar generasi muda, tetapi penipuan digital dan phishing banyak menimpa orang tua,” ujarnya.
Ia menilai, edukasi literasi digital kepada orang tua akan lebih efektif jika dilakukan oleh lingkungan terdekat, terutama anak-anak mereka sendiri.
Orang tua, kata Dafa, cenderung lebih menerima nasihat dari anggota keluarga dibandingkan pihak luar.
Selain isu keamanan digital, Dafa juga menyoroti kebiasaan orang tua yang memberikan gawai kepada anak tanpa pendampingan.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan kognitif, emosi, dan perilaku anak, terutama pada usia balita.
Secara khusus, Dafa mengingatkan bahaya konten anak dengan peralihan visual yang sangat cepat, seperti tayangan animasi tertentu.
Berdasarkan sejumlah penelitian, konten dengan tempo visual tinggi dapat membuat otak balita kesulitan memproses informasi secara optimal.
“Balita terlihat tenang saat menonton, tetapi sebenarnya otaknya tidak mampu merespons perubahan visual yang terlalu cepat,” jelasnya.
Ia juga menyinggung dampak konten pendek di platform media sosial seperti YouTube Shorts dan TikTok.
Paparan berlebihan terhadap konten semacam itu dinilai dapat memicu sifat temperamental, menurunkan fokus, serta memengaruhi perkembangan bahasa dan pola perilaku anak.
Melalui dialog tersebut, Kominfo mengajak orang tua, mahasiswa, dan masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih tontonan anak, meningkatkan pengawasan penggunaan gawai, serta memperkuat etika dan keamanan dalam bermedia digital.
Dafa berharap kegiatan ini dapat mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak, sekaligus melindungi orang tua dari ancaman kejahatan siber dan penyebaran hoaks.

