SAMARINDA: Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda menyiapkan langkah strategis dengan merancang pembukaan sejumlah program studi baru, khususnya yang berbasis teknologi informasi (IT) dan kebutuhan industri daerah, sebagai bagian dari transformasi kampus menuju entrepreneur university.
Hal itu disampaikan Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, Zuhdi Yahya, usai dilantik bersama pimpinan universitas lainnya periode 2026-2029, Rabu, 14 Januari 2026.
Menurutnya, pembukaan program studi baru menjadi salah satu prioritas utama pada masa awal kepemimpinannya, seiring dengan upaya memperkuat daya saing lulusan di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja.
“Ke depan, kami akan membuka program studi baru yang berbasis IT. Saat ini Untag belum memiliki program studi IT secara khusus, padahal kebutuhan itu sangat besar,” ujarnya.
Selain IT, Untag Samarinda juga mulai memetakan peluang pembukaan program studi yang relevan dengan karakteristik Kalimantan Timur (Kaltim) termasuk sektor sumber daya alam dan industri turunannya.
“Kaltim memiliki kekhasan, seperti pertambangan dan industri berbasis mineral. Kenapa tidak kita siapkan program studi atau konsentrasi keilmuan yang mendukung kebutuhan itu, tentu dengan pendekatan yang relevan dengan arah pembangunan saat ini,” katanya.
Zuhdi menegaskan, pendekatan yang diambil tidak semata-mata berorientasi pada eksploitasi sumber daya, melainkan pada penguatan kompetensi pascatambang, reklamasi, lingkungan, dan ekonomi hijau.
“Bukan soal menambang, tapi bagaimana pascatambang, reklamasi, pengelolaan lingkungan, dan keberlanjutan. Itu justru peluang besar bagi pengembangan keilmuan,” jelasnya.
Rencana pembukaan program studi baru tersebut akan terintegrasi dengan konsep entrepreneur university yang menjadi arah pengembangan Untag Samarinda ke depan.
Kurikulum akan disusun dengan porsi praktik lebih besar dibanding teori, serta melibatkan dunia usaha, industri, dan pemerintah daerah.
“Kami ingin mahasiswa lulus tidak hanya membawa ijazah, tapi juga memiliki jiwa usaha, keterampilan praktis, dan kesiapan kerja. Karena itu, kurikulum akan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan,” ungkapnya.
Dalam mendukung program studi baru, Untag Samarinda juga berencana membentuk unit-unit usaha dan koperasi di tingkat program studi, yang dapat menjadi ruang praktik, riset terapan, dan penguatan kewirausahaan mahasiswa.
“Kami ingin setiap program studi punya unit usaha atau koperasi. Di situ mahasiswa bisa praktik, meneliti, sekaligus belajar bisnis secara langsung,” tambahnya.
Selain jenjang sarjana, Untag Samarinda juga membuka peluang pengembangan program studi magister (S2) dan tidak menutup kemungkinan doktoral (S3) di masa mendatang, seiring kesiapan sumber daya manusia dan regulasi.
“Saat ini S2 sudah ada empat program. Ke depan, bukan tidak mungkin berkembang lagi, bahkan sampai S3, termasuk di bidang-bidang baru seperti IT yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan,” katanya.
Zuhdi menilai transformasi akademik ini menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat dan menarik minat calon mahasiswa baru.
“Jumlah mahasiswa kami saat ini sekitar 5.600. Tantangannya adalah bagaimana kampus ini tumbuh, relevan, dan benar-benar menjawab kebutuhan zaman,” pungkasnya.

